Situs ini baik dibuka dengan Windows Arabic atau Windows dengan bahasa default Arabic !!!

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. أما بعد

17 Oktober 2009

Makna Jami’an

جَمِيعًا


Yaitu pada firman Allah Ta’ala :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

Dan berpeganglah kepada tali Allah jami’an, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali Imron 103).

Maknanya ada dua, dan dua-duanya benar yaitu semakna:

Makna Pertama,

جميعا maknanya semuanya yaitu semua kaum muslimin hendaknya berpegang teguh dengan Tali Allah. Sebagaimana firman Allah:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا

“Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafaat itu jami’an” (Qs. Az-Zumar 44). Yaitu semuanya, tanpa kecuali.

Makna Kedua,

جميعا dimaknai (مجتمعين عليه), maksudnya jadilah kalian semua orang-orang yang bersatu diatasnya yaitu diatas Tali Allah (Kitabullah dan Sunnah). Jadikanlah Kitabullah dan Sunnah sebagai pemutus perselisihan diantara kamu sekalian, sehingga kalian tidak bercerai berai.

Lihat Tafsir Al-Baidhawi (1/73), Tafsir Ibn ‘Ajibah (1/315), Tafsir Al-Alusy (4/19), dan Ibnu Jauzi dalam Zadul Masir (1/433).

Kedua makna itu tidak saling bertentangan. Sebab Allah Ta’ala memerintahkan kita semua tanpa kecuali agar berpegang teguh dengan Tali Allah yaitu Kitabullah dan Sunnah, menjadikan keduanya sebagai pemersatu, walaupun badan kadang tidak ada disatu tempat.

Kesimpulan

Jadi sebagimana sering dinasehatkan bahwa siapa saja, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan bagaimana pun haruslah berpegang teguh dengan Tali Allah.

Walhamdulillah.

15 Oktober 2009

Tentang Dibencinya Perkumpulan Sirriyah


(38). Ibn Abi Ashim v dalam Kitabus Sunnah (no 887):

ثنا الحسن بن علي الحلواني ، والحصين بن البزار ، قالا : ثنا محمد بن الصباح ، ثنا سعيد بن عبد الرحمن الجمحي ، عن عبيد الله بن عمر ، عن نافع ، عن ابن عمر ، قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أوصني . قال : « اعبد الله ولا تشرك به شيئا ، وأقم الصلاة، وآت الزكاة ، وصم رمضان ، وحج البيت ، واعتمر ، وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَعَلَيْكَ بِالْعَلاَنِيَّةِ وَإِيَّاكَ وَالسِّرَّ »

Menceritakan kepada kami Al-Hasan ibn Ali Al-Halwani dan Al-Hushain bin Al-Bazar, berkata keduanya: menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ash-Shabah, menceritakan kepada kami Sa’id ibn Abdurahman Al-Jamhi dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi dari Ibnu Umar a yang berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi n dan berkata: “Ya Rasulullah nasihati saya”. Beliau n bersabda: "Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan puasalah dibulan ramadhan, hajilah ke Baitullah dan umrohlah. Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah sirriyah (ketertutupan/kerahasiaan)".

Hadits ini dikuatkan oleh Imam Al-Albani v dalam Zhilal Al-Jannah (no. 1070), beliau berkata: “Isnadnya jayyid”. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 165, beliau berkata, “Shahih dengan syarat Bukhori dan Muslim”, dan disetujui adz-Dzahabi. Dikeluarkan pula oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 3975), semuanya dari jalan Muhammad bin Sabah. Juga disebutkan Ibn Adi dalam Al-Kamil (3/399).

(39). Imam Ahmad v dalam Az-Zuhud no. 1694:

حدثنا عبد الله ، حدثنا عبد الله بن عمرو ، حدثنا ابن المبارك ، أخبرني الأوزاعي قال : قال عمر بن عبد العزيز : إِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يَتَنَاجَوْنَ فِيْ دِيْنِهِمْ دُوْنَ الْعَامَّةِ فَاعْلَمْ أَنَّهُمْ عَلَى تَأْسِيْسِ ضَلاَلَةٍ

Menceritakan kepada kami Abdullah, menceritakan kepada kami Abdullah bin Amru, menceritakan kepada kami Ibn Mubarak, mengkhabarkan kepada saya Al-Auzai beliau berkata, Umar bin Abdil Aziz v berkata: "Jika engkau melihat suatu kaum yang berbisik-bisik (berbicara rahasia) tentang agama mereka, tanpa orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merintis kesesatan".

Atsar ini diriwayatkan lagi oleh Ahmad pada no. 1705, Ad-Darimi dalam As-Sunan (no. 313), dan Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqod Ahlus Sunnah wal Jama'ah (no. 219 dan no. 1093), dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan Al-Ilm (3/160).


Pasal Tentang Tidak Sahnya Bai’at Rahasia,

Dengan Tanpa Diketahui Kaum Muslimin


(40). Imam Ahmad v meriwayatkan dalam Musnad Ahmad (1/55) no. 391 sebuah hadits yang panjang, dibawah ini adalah ringkasannya, beliau berkata :

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ رَجَعَ إِلَى رَحْلِهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَكُنْتُ أُقْرِئُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ فَوَجَدَنِي وَأَنَا أَنْتَظِرُهُ وَذَلِكَ بِمِنًى فِي آخِرِ حَجَّةٍ حَجَّهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ إِنَّ رَجُلًا أَتَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ إِنَّ فُلَانًا يَقُولُ لَوْ قَدْ مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَايَعْتُ فُلَانًا فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنِّي قَائِمٌ الْعَشِيَّةَ فِي النَّاسِ فَمُحَذِّرُهُمْ هَؤُلَاءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ أَنْ يَغْصِبُوهُمْ أَمْرَهُمْ

Menceritakan kepada kami Ishaq ibn Isa At-Tabba’ dia berkata, menceritakan kepada kami Malik ibn Anas, dia berkata, telah bercerita kepada ku Ibn Syihab dari Ubaidullah ibn Abdullah ibn Utbah ibn Mas’ud bahwa Ibn Abbas membertahukan kepadanya bahwa Abdurrahman ibn Auf kembali ke rumahnya, Ibn Abbas berkata, “Aku ingin memberikan salam kepada Abdurrahman bin Auf, maka ia menjumpaiku sementara aku telah menunggunya –peristiwa itu terjadi di Mina pada waktu Umar bin Khattab melaksanakan haji yang terakhir- maka Abdurrahman berkata, “Seseorang pernah mendatangi Umar dan berkata, “Ada orang yang mengatakan jika Umar wafat maka aku akan membai’at si fulan”!. Maka Umar menjawab, “Selepas shalat isya nanti aku akan berbicara pada manusia sambil memperingatkan mereka dari sekelompok orang-orang yang ingin mencari masalah” ….

وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَمَا وَاللَّهِ مَا وَجَدْنَا فِيمَا حَضَرْنَا أَمْرًا هُوَ أَقْوَى مِنْ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَشِينَا إِنْ فَارَقْنَا الْقَوْمَ وَلَمْ تَكُنْ بَيْعَةٌ أَنْ يُحْدِثُوا بَعْدَنَا بَيْعَةً فَإِمَّا أَنْ نُتَابِعَهُمْ عَلَى مَا لَا نَرْضَى وَإِمَّا أَنْ نُخَالِفَهُمْ فَيَكُونَ فِيهِ فَسَادٌ فَمَنْ بَايَعَ أَمِيرًا عَنْ غَيْرِ مَشُورَةِ الْمُسْلِمِينَ فَلَا بَيْعَةَ لَهُ وَلَا بَيْعَةَ لِلَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا

Kemudian Umar a melanjutkan nasihatnya: “Demi Allah kami tidak pernah menemui perkara yang paling besar dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at yang mereka buat yang pasti akan menimbulkan kehancuran, maka barangsiapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah dengan kaum muslimin terlebih dahulu, maka tidak ada bai’at baginya. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh”.

Hadits ini dalam Bukhari no. 6329.

(41). Imam Ibn Abi Ashim v dalam Al-Mudzakkir wa At-Tadzkir hal. 91:

حدثنا أبو بكر بن ابي شيبة نا محمد بن بشر ثنا عبيد الله ابن عمر عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ نَاسًا يَجْتَمِعُوْنَ فِيْ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَأَتَاهَا فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, مَا كَانَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيْكَ وَلاَ بَعْدَ أَبِيْكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْكِ فَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّ هؤُلاَءِ النَّفَرَ يَجْتَمِعُوْنَ عِنْدَكَ, وَايْمُ اللهِ لَئِنْ بَلَغَنِيْ ذَلِكَ لأَحَرِّقَنَّ عَلَيْهِمُ الْبَيْتَ, فَلَمَّا جَاءُوْا فَاطِمَةَ قَالَتْ : إِنَّ ابْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ فَاعِلُ ذَلِكَ ، فَتَفَرَّقُوْا حَتَّى بُوْيِعَ لأَبِيْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

Menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn Abi Syaibah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami Ubaidullah ibn Umar dari Zaid ibn Aslam dari Bapaknya, beliau berkata: "Telah sampai (suatu berita) kepada Umar bin Khathab a bahwa ada beberapa orang yang akan berkumpul di rumah Fathimah. Maka Umar mendatangi Fathimah seraya berkata, "Wahai Putri Rasulullah n, tak ada seorang pun yang yang lebih kami cintai dibandingkan ayahmu, dan tak ada orang yang paling kami cintai setelah ayahmu dibandingkan anda. Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ada beberapa orang yang berkumpul di sisimu (secara rahasia). Demi Allah, jika sampai berita hal itu kepadaku, maka sungguh aku akan membakar rumah mereka". Tatkala mereka mendatangi Fathimah, maka Fathimah berkata, "Sesungguhnya Umar bin Khathab berkata demikian dan demikian. Sungguh ia akan melakukan hal itu". Lalu merekapun berpencar sehingga Abu Bakar a dibai’at".

Dan telah meriwayatkan pula Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/572/4), semisal ini.

(42). Imam Ahmad v dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah (2/573) no. 969 :

قثنا إسحاق بن يوسف قثنا عبد الملك يعني بن أبي سليمان عن سلمة بن كهيل عن سالم بن أبي الجعد عن محمد بن الحنفية قال كنت مع علي وعثمان محصور قال فأتاه رجل فقال ان أمير المؤمنين مقتول ثم جاء آخر فقال ان أمير المؤمنين مقتول الساعة قال فقام علي قال محمد فأخذت بوسطه تخوفا عليه فقال خل لا أم لك قال فأتى علي الدار وقد قتل الرجل فأتى داره فدخلها وأغلق عليه بابه. فأتاه الناس فضربوا عليه الباب فدخلوا عليه فقالوا إن هذا الرجل قد قتل ولا بد للناس من خليفة ولا نعلم أحدا أحق بها منك فقال لهم علي لا تريدوني فإني لكم وزير خير مني لكم أمير فقالوا لا والله ما نعلم أحدا أحق بها منك قال فإن أبيتم علي فإن بيعتي لا تكون سرا ولكن أخرج إلى المسجد فمن شاء أن يبايعني بايعني قال فخرج إلى المسجد فبايعه الناس

Sungguh telah menceritakan kepada kami Ishaq ibn Yusuf, sungguh menceritakan kepada kami Abdul Malik yakni Ibn Abi Sulaiman dari Salamah ibn Kuhail dari Salim ibn Abi Al-Ja’di dari Muhammad ibn Hanafiyah ia berkata, “Aku bersama Ali saat Utsman dikepung, lalu datanglah seorang laki-laki dan berkata, “Amirul mukminin telah terbunuh”. Kemudian datang laki-laki lain dan berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin baru saja terbunuh”. Ali segera bangkit namun aku cepat mencegahnya karena khawatir keselamatan beliau. Beliau berkata, “Celaka kamu ini!”. Ali segera menuju kediaman Utsman dan ternyata Utsman telah terbunuh. Beliau pulang ke rumah lalu mengunci pintu. Orang-orang mendatangi beliau sambil mengedor-ngedor pintu lalu menerobos masuk menemui beliau. Mereka berkata, “Lelaki ini (Utsman) telah terbunuh. Sedangkan orang-orang harus punya khalifah. Dan kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Tidak, kalian tidak menghendaki diriku, menjadi wazir bagi kalian lebih aku sukai daripada menjadi amir”. Mereka berkata, “Tidak demi Allah kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Jika kalian tetap bersikeras, maka bai’atku bukanlah bai’at yang rahasia. Akan tetapi aku akan ke mesjid, barangsiapa ingin membai’atku maka silahkan ia membai’atku”. Ali pun pergi ke mesjid dan orang-orang pun membai’at beliau.

Atsar ini dikeluarkan juga oleh Abu Bakar Al-Khalal v dalam As-Sunnah no. 629 dan no. 630, kemudian aku melihat bahwa Al-Ajuri v mengeluarkannya juga dalam Asy-Syari’ah no. 1194. Isnad atsar ini hasan, karena Abdul Malik bin Abi Sulaiman shaduq, telah ditsiqahkan oleh lebih dari satu orang.

(43). Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid v dalam Hukmul Intima’ (hal. 128),

أن البيعة في الإسلام واحدة, من ذوي الشوكة: أهل الحل والعقد لولي أمر المسلمين وسلطانهم, وأن ما دون ذلك من البيعات الطرقية والحزبية في بعض الجماعات الإسلامية المعاصرة كلها بيعات لا أصل لها في الشرع لا من كتاب الله ولا سنة رسوله n ولا عمل صحابي, ولا تابعي, فهي بيعات مبتدعة وكل بدعة ضلالة وكل بيعة لا أصل لها في الشرع فهي غير لازمة العهد, فلا حرج ولا إثم في تركها و نكثها, بل الإثم في عقدها, لأن التعبد بها أمر محدث لا أصل له ناهيك عما يترتب عليها من تثقيق الأمة, وتفرقها شيعا, وإثارة الفتن بينها, واستعداء بعضها على بعض, فهي خارجة عن حد الشرع سواء سميت بيعة أو عهدا أو عقدا

"Sesungguhnya bai’at dalam Islam adalah satu, berasal dari ahlul halli wal aqdi (tokoh-tokoh masyarakat) kepada pemerintah dan penguasa kaum muslimin. Sesungguhnya bai’at selain itu berupa bai’at-bai’at tarekat dan hizbiyyah pada sebagian jama’ah-jama’ah Islamiyyah masa kini, semua bai’at ini adalah bai’at-bai’at yang yang tak ada asalnya dalam syari’at, baik dari Kitabullah, Sunnah Rasulullah n, amaliah seorang sahabat, dan tabi’in. Itu adalah bai’at-bai’at bid’ah. Sedang setiap bid’ah adalah sesat; setiap bai’at yang tak ada asal (dasar)nya dalam syari’at maka bai’at-bai’at itu tak perlu dijaga. Karenanya, tak ada masalah, dan dosa ketika meninggalkannya, dan melanggarnya. Bahkan ada dosa ketika melakukannya. Karena ta’abbud (mendekatkan diri) dengannya adalah perkara baru yang tidak ada dasarnya. Belum lagi masalah yang timbul dari akibat bai’at-bai’at tersebut berupa penceraiberaian umat, pemecah-belahan umat menjadi berkelompok-kelompok, memancing fitnah (polemik) diantara mereka, pelampauan batas atas satu kelompok dengan kelompok lain. Jadi, bai’at-bai’at ini keluar dari batasan syari’at; sama saja apakah ia diistilahkan dengan "Bai’at", "janji", atau "akad" (persetujuan)".

(44). Syaikh Amru Abdul Mun’im Salim dalam kitab Al-Manhaj As-Salafi Inda Syaikh Nasruddin Al-Albani hal. 233, mengutip perkataan Syaikh Nasiruddin Al-Albani v:

إنهم يستدلون بهذا الحديث وبالتالي إن بعضهم يطبقون على أمرائهم الذين يبايعونهم, مشل قوله عليه الصلاة والسلام : من مات وليس فِي عنقه بيعة مات ميتة جاهلية، ولذلك فهم يؤمرون أميراً، ويبايعونه، هذا الأمير ليس هو الذي يجب أن يبايع. وإنما على المسلمين أن يعملوا بكل ما أوتوا من قوة ومن علم لإ عادة المجتمع الإسلامي الذي يتطلب أن يقوم عليه رجل واحد هوالخليفة الذي يجب على كل المسلمين ان يبايعوه، أما هذه الجماعة تؤمر عليها أميرا وتوجب على الآفراد البيعة وإنهم إذا لم يبايعوه ماتوا ميتة جاهلية, فهذا من تحريف الكلم عن مواضعه وهذا مما يجوز للمسلم أنيقع فيه.

“Sesungguhnya mereka (jama’ah-jama’ah hizbiyah) berdalil dengan hadits ini (Hadits imammah dan jama’ah), lalu sebagian mereka menerapkannya kepada pemimpin mereka yang mereka telah membai’atnya, seperti sabda Rasulullah n: “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada bai’at, maka matinya seperti mati dalam keadaan jahiliyah”. Oleh karena itu mereka mengangkat amir, dan membai’atnya. (padahal) Amir seperti ini bukan amir yang wajib dibai’at. Dan apa-apa (yang wajib) bagi kaum muslimin adalah bekerja dengan setiap kekuatan dan ilmu untuk mengembalikan masyarakat Islami yang menuntut bangkitnya seorang laki-laki sebagai Khalifah yang wajib dibai’at oleh setiap orang Islam. Adapun jama’ah-jama’ah yang ada sekarang mengangkat seorang amir diantara mereka, dan tiap anggota diwajibkan berbai’at kepadanya. Dan jika ada yang tidak membai’atnya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah !!, ini tindakan penyimpangan (tahrif) kalimat dari posisinya, dan tidak boleh terjadi seperti ini bagi kaum muslimin”.

10 Oktober 2009

Infak Bukan Persenan


Firman Allah Ta’ala :

وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“…. Yang mendirikan shalat dan menginfakan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka”. (Surat Al-Baqarah 3)

(42). Ibn Jarir Ath-Thabari v dalam Tafsir (1/243) no. 286:

حدثني المثنى، قال: حدثنا عبد الله بن صالح، عن معاوية، عن علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس،"ومما رزقناهم ينفقون"، قال: زكاةَ أموالهم

Menceritakan kepada saya Al-Mutsana yang berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Sholih dari Mu’awiyah dari Ali bin Abi Tholhah dari Ibn Abbas a tentang firman Allah : “dan menginfakan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka”. Dia berkata: “Maksudnya adalah mengeluarkan zakat dari harta kekayaan yang ia miliki”.

Dikeluarkan dari jalan lain dari Ibn Abbas pada nomor 285.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata dalam Majmu Al-Fatawa (13/361-362),

مَنْ عَدَلَ عَنْ مَذَاهِبِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَفْسِيرِهِمْ إلَى مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ كَانَ مُخْطِئًا فِي ذَلِكَ بَلْ مُبْتَدِعًا وَإِنْ كَانَ مُجْتَهِدًا مَغْفُورًا لَهُ خَطَؤُهُ فَالْمَقْصُودُ بَيَانُ طُرُقِ الْعِلْمِ وَأَدِلَّتِهِ وَطُرُقِ الصَّوَابِ وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ الْقُرْآنَ قَرَأَهُ الصَّحَابَةُ وَالتَّابِعُونَ وَتَابِعُوهُمْ وَأَنَّهُمْ كَانُوا أَعْلَمَ بِتَفْسِيرِهِ وَمَعَانِيهِ كَمَا أَنَّهُمْ أَعْلَمُ بِالْحَقِّ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barangsiapa yang berpaling dari mazhab sahabat dan tabi’in dan tafsir mereka kepada yang menyelisihinya, maka ia telah salah, bahkan sebagai ahli bid’ah. Kalau ia sebagai mujtahid akan diampuni kesalahannya. Dan kita mengetahui sesungguhnya Al-Qur’an telah dibaca oleh para sahabat dan tabi’in dan yang mengikuti mereka. Dan sesungguhnya mereka lebih mengetahui tentang tafsir Al-Qur’an dan makna-maknanya sebagaimana mereka lebih tahu tentang kebenaran yang Allah telah mengutus Rasul-NYa dengan membawa kebenaran itu”.

Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.

Wajibnya Pengetahuan

Sesungguhnya Allah Ada Di Langit (Diatas Arsy)


Allah Ta’ala berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar-Rahman, Yang bersemayam di atas 'Arsy”. (Thaahaa 5).

Imam Ad-Darimi v dalam Radd Alal Jahmiyah no. 20 :

حدثنا مسلم بن إبراهيم الأزدي ، ثنا أبان وهو ابن يزيد العطار ، عن يحيى بن أبي كثير ، عن هلال بن أبي ميمونة ، عن عطاء بن يسار ، عن معاوية بن الحكم السلمي ، رضي الله عنه قال : كانت لي جارية ترعى غنما لي في قبل أحد والجوانية ، وإني اطلعت يوما اطلاعة فوجدت ذئبا ذهب منها بشاة ، وإني رجل من بني آدم ، آسف كما يأسفون ، فصككتها صكة، فعظم ذلك على النبي صلى الله عليه وسلم ، فقلت : أفلا أعتقها ؟ ، فقال : « ادعها » ، فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم : « أين الله ؟ » قالت : في السماء . قال : « فمن أنا ؟ » قالت : أنت رسول الله قال : « أعتقها ، فإنها مؤمنة »

Menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrohim Al-Azdi, menceritakan kepada kami Aban yaitu Ibn Yazid Al-‘Athar dari Yahya bin Abi Katsir dari Halal bin Abi Maimunah dari Atho bin Yasar dari Mu’awiyah bin Hakam As-Salami a berkata, “Dahulu aku mempunyai kambing yang tersebar antara Uhud dan Jawaniyah dan ditunggui oleh budak wanita milik ku. Pada suatu hari aku melihatnya (mendapat laporan) bahwa seekor srigala telah membawa seekor kambing. Karena aku adalah cucu Adam, aku kemudian memarahi dan memukulinya dengan kuat. Kemudian aku mendatangi Rasulullah n dan menceritakan semua itu kepada beliau. Beliau n menganggap permasalahan tersebut sebagai masalah yang besar. Kemudian aku berkata, “Apakah aku harus memerdekakannya?”. Beliau n menjawab, “Panggil dia”. Aku pun memanggilnya, kemudian Rasulullah n berkata kepadanya, “Dimanakah Allah?”. Ia menjawab, “Di atas langit”. Beliau n bertanya lagi, “Siapakah aku?”. Ia menjawab, “Engkau adalah utusan Allah”. Beliau n berkata, “Merdekakanlah ia, karena ia telah menjadi seorang perempuan yang beriman”.

Lihat juga Malik (3/5-6 – Tanwirul Hawalik), Muslim no. 537, Abu Dawud no. 930-931, Nasai no. 1218, Ahmad (5/447, 448, 449) Abu Dawud Ath-Thayalisi no. 1105, Ibn Jarud dalam Al-Muntaqa (no. 212), Baihaqi (2/249-250), Ibn Khuzaimah dalam At-Tauhid (hal. 121-122), Ibn Abi Ashim dalam As-Sunnah (no. 489), Al-Lalikai no. 652, dan lainnya.

Imam Ad-Darimi v dalam Radd Alal Jahmiyah berkata,

هذا دليل على أن الرجل إذا لم يعلم أن الله عز وجل في السماء دون الأرض فليس بمؤمن ولو كان عبدا فأعتق لم يجز في رقبة مؤمنة ، إذ لا يعلم أن الله في السماء . ألا ترى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جعل أمارة إيمانها معرفتها أن الله في السماء ؟ وفي قول رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أين الله ؟ » تكذيب لقول من يقول : هو في كل مكان ، لا يوصف ب «أين»

“Didalam hadits Rasulullah n ini terdapat dalil. Bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berada diatas langit bukan dibumi tidaklah dia seorang mu’min. tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah n telah menjadikan tanda keimanan budak perempuan itu lewat pengetahuan sesungguhnya Allah berada diatas langit. Dan didalam pertanyaan Rasulullah n kepada budak perempuan, “Dimanakah Allah?”. Juga mendustakan perkataan orang yang mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana dan tidak boleh disifatkan dengan pertanyaan dimana”.

Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.

Imam Al-Khatib al-Baghdadi v dalam Al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah halaman 354 Tentang Wijadah


(Pada terjemahan Al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah ini kami dibantu oleh Ustadz Deni, jazakallahukhoiro)


Pertama kali akan kami ulangi bahwa bantahan kami kepada ilmu mangkul bukan berarti kami menentang kebiasaan ahli hadits dalam hal sema’an (pembacaan hadits) atau ijazah sanad-sanad hadits sampai kepada penulis kitab, sebab kami pun memilikinya, tetap memakainya dan mempertahankannya dengan teguh. Akan tetapi Ahlus sunnah berada diantara berlebih-lebihan dan berkurang-kurangan. Maka kami tidak berlebihan sebagaimana Madigol berlebih-lebihan yang bahkan Islam menurutnya tidak sah kecuali dengan mangul, Subhanallah.

Imam Al-Khatib al-Baghdadi v berkata:

ذكر بعض أخبار من كان من المتقدمين يروي عن الصحف وجادة ما ليس بسماع له ولا إجازة

“Penyebutan sebagian khabar tentang orang-orang terdahulu yang meriwayatkan dari mushaf dan mendapatkan (hadits) apa yang tidak lewat pendengaran dan tidak lewat ijazah”.

أخبرنا الحسن بن أبي بكر بن شاذان ، أنا أحمد بن سلمان الفقيه النجاد ، ثنا إسماعيل بن إسحاق ، ثنا إسحاق بن محمد الفروي ، ثنا عبد الله بن عمر ، عن نافع ، عن ابن عمر ، أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب رضي الله عنه صحيفة فيها : « ليس فيما دون خمس من الإبل صدقة ، فإذا كانت خمسا ففيها شاة ، وفي عشر شاتان ، وفي خمس عشرة ثلاث شياه ، وفي عشرين أربع شياه ، فإذا بلغت خمسا وعشرين ففيها ابنة مخاض ، وذكر الحديث بطوله »

Mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan ibn Abu Bakr ibn Syadzan, beliau berkata : mengkhabarkan kepada kami Ahmad ibn Sulaiman An-Najad Al-Faqihi, beliau berkata, menceritakan kepada kami Ismail ibn Ishaq, beliau berkata, menceritakan kepada kami Ishaq ibn Muhammad Al-Farawi, beliau berkata, menceritakan kepada kami Abdullah ibn Umar dari Nafi dari Ibn Umar. Sesungguhnya beliau mendapatkan pada gagang pedang peninggalan Umar ibn Khattab a sebuah lembaran (tertulis didalamnya): “Tidak ada zakat di bawah lima unta, jika ada lima unta maka (zakatnya) satu kambing, pada sepuluh (zakatnya) dua kambing, pada lima belas (zakatnya) tiga kambing dan pada dua puluh (zakatnya) empat kambing. Apabila sampai dua puluh lima maka (zakatnya) anak unta yang umurnya masuk dua tahun. - beliau menyebutkan hadis dengan panjang- .

أخبرنا محمد بن الحسين ، أنا عبد الله بن جعفر ، ثنا يعقوب بن سفيان ، حدثني أبو بكر الحميدي ، ثنا سفيان ، ثنا مساور يعني الوراق ، عن أخيه سيار ، قال : قيل للحسن : يا أبا سعيد : « عمن هذه الأحاديث التي تحدثنا ؟ قال : صحيفة وجدناها »

Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad ibn Husain, mengkhabarkan kepada kami Abdulloh Ibn Ja’far, menceritakan kepadaku Ya’kub Ibn Sufyan, menceritakan kepadaku Abu Bakr al Humaidy, menceritakan kepada kami Sufyan, menceritakan kepada kami Musawir yakni Al Waroq dari saudaranya Sayyar. Beliau berkata: Dikatakan kepada Al-Hasan: ”Hai Abu Said, darimana hadits yang engkau riwayatkan ini?. Beliau menjawab: “Dari lembaran yang kami menemukannya“.

أخبرنا ابن رزق ، أخبرنا عثمان بن أحمد ، ثنا حنبل بن إسحاق ، ثنا علي يعني ابن المديني قال : سمعت يحيى هو ابن سعيد يقول : قال التيمي : « ذهبوا بصحيفة جابر إلى الحسن فرواها ، أو قال : فأخذها ، وأتوني بها فلم أردها ، قلت ليحيى : سمعت هذا من التيمي ؟ فقال برأسه ، أي نعم »

Mengabarkan kepada kami ibn Abdul Rozzaq, mengabarkan kepada kami ‘Utsman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Hambal Ibn Ishaq menceritakan kepadaku ‘Ali yaitu Ibn Al Madini. Beliau berkata: ”Saya mendengar Yahya yaitu Ibn Said berkata: berkata al-Taimy : ”Mereka pergi membawa satu lembaran (milik) Jabir kepada Al-Hasan lalu mereka melihatnya. Atau ia berkata: “Kemudian mengambilnya dan memberikannya kepadaku walaupun aku tidak meng-hendakinya”. Aku (Ibn Al-Madini) berkata kepada Yahya: ”Engkau mendengar ini dari at-Taimy ?”. Dia menjawab dengan kepalanya (mengangguk), yaitu benar (aku telah mendengarnya).“

أخبرني ابن الفضل ، أنا دعلج ، أنا أحمد بن علي الأبار ، ثنا الحسن يعني ابن علي الحلواني ، ثنا عفان ، قال : قال لي همام بن يحيى : « قدمت أم سليمان اليشكري بكتاب سليمان ، فقرئ على ثابت ، وقتادة ، وأبي بشر ، والحسن ومطرف ، فرووها كلها ، وأما ثابت فروى منها حديثا واحدا»

Telah mengkhabarkan kepadaku Ibn Al Fadl, mengkhabarkan kepada kami Da’laj, mengkhabarkan kepada kami Ahmad ibn Ali al Abari, menceritakan kepada kami al-Hasan yakni Ibn Ali al-Hilwani, menceritakan kepada kami ‘Affan, beliau berkata: ”Berkata kepadaku Hammam ibn Yahya : “Ummu Sulaiman al-Yasykari datang membawa catatan Sulaiman. Lalu dibacakan kepada Tsabit, Qotadah, Abi Basyar, al-Hasan dan Muthorif. Kemudian mereka melihat semua catatan-nya, sedangkan Tsabit (kemudian) meriwayatkan dari catatan itu sebuah hadits”.

أخبرنا أبو نعيم الحافظ ، ثنا محمد بن أحمد بن الحسن ، ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة ، ثنا علي بن عبد الله المديني ، قال : قال يحيى : رأيت في كتاب عندي عتيق لسفيان حدثني عبد الله بن ذكوان أبو الزناد ، حدثني ابن سعيد ، حدثني أبو صالح مولى السفاح حديث زيد : « » عجل لي وأضع لك « قال هذا يحيى من أجل توصيل إسناده » حدثني « قال : » حدثني « »

Menceritakan kepada kami Abu Naim Al-Hafidz, menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ahmad ibn Al-Hasan, menceritakan kepada kami Muhammad Ibn ‘Utsman Ibn Abi Syaibah, menceritakan kepada kami ‘Ali ibn Abdillah al-Madaini, beliau berkata: ”Berkata Yahya : “Aku melihat dalam kitab sedangkan didekatku ‘Atiq: “Untuk Sufyan, menceritakan kepada ku Abdullah ibn Dzakwan Abu Zinad, menceritakan kepadaku Ibnu Sa’id, menceritakan kepadaku Abu Sholih Maula Al Saffah pada hadisnya Zaid: “Berilah tempo kepadaku aku titipkan kepadamu“. Lalu berkata: ”Ini Yahya sebab bersambung sanad haditsnya“. (maka katakan) “Menceritakan kepada ku”. Maka dia pun berkata: ”Menceritakan kepadaku.“

أخبرنا الحسين بن علي الطناجيري ، أنا عمر بن أحمد الواعظ ، ثنا محمد بن جعفرالعسكري ، ثنا جعفر بن أبي عثمان ، قال : سمعت علي بن المديني ، يقول : « وائل بن داود لم يسمع من ابنه ، إنما كانت له صحيفة في بيته »

Mengabarkan kepada kami al-Husain ibn Ali al-Thonajiry, mengkhabarkan kepada kami Umar ibn Ahmad al-Waidzi, menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ja’far al-‘Askary, menceritakan kepada kami Ja’far ibn Abi ‘Utsman. Beliau berkata: “Aku mendengar Ali al-Madaini berkata : “Wail ibn Daud tidak mendengar dari anaknya, sesungguhnya beliau mempunyai satu tulisan di rumahnya“.

أخبرنا محمد بن عبد الواحد الأكبر ، أنا محمد بن العباس الخزاز ، ثنا أحمد بن سعيد السوسي ، ثنا العباس بن محمد ، قال : سمعت يحيى بن معين ، يقول : ثنا وكيع ، قال : سمعت شعبة ، يقول : « حديث أبي سفيان عن جابر ، إنما هي صحيفة »

Mengkhabarkan kepada kami Muhammad ibn abdil Wahid al Akbari, mengkhabarkan kepada kami Muhammad Ibn Al-Abbas Al-Khozzazi, menceritakan kepada kami Ahmad Ibn Said As-Sausy, menceritakan kepadaku Al-Abbas Ibn Muhammad. Beliau berkata: ”Aku mendengar Yahya Ibn Ma’in berkata: ”Menceritakan kepada kami Waki’, beliau berkata: ”Aku mendengar Syu’bah berkata: ”Hadits Abi Sufyan dari Jabir adalah berasal dari lembaran“.

أخبرنا القاضي أبو العلاء محمد بن علي الواسطي ، أنا أبو مسلم بن مهران ، أنا عبد المؤمن بن خلف النسفي ، قال : سألت أبا علي صالح بن محمد البغدادي عن عمرو بن شعيب ، فقال : « ثقة ، ولكن أحاديثه لا أدري كيف هي ، وأحاديثه صحيفة ورثوها »

Mengkhabarkan kepada kami al-Qodhi Abu Al-A’lai Muhammad Ali Al-Washity, mengkhabarkan kepada kami Abu Muslim ibn Mahron, mengkhabarkan kepada kami Abdul Mu’min ibn Kholaf An-Nasafy, beliau berkata: ”Aku bertanya kepada Abu Shalih ibn Muhammad al-Baghdadi dari ’Umar ibn Syu’aib. Lalu beliau berkata: ”Terpercaya, tetapi hadits-haditsnya aku tidak mengetahui bagaimana keadaannya. Dan hadits-haditsnya berasal dari lembaran yang mereka wariskan“.

أخبرنا أبو عمر عبد الواحد بن محمد بن عبد الله بن مهدي قال أنا أبو بكر محمد بن أحمد بن يعقوب بن شيبة قال ثنا جدي قال سمعت سليمان بن حرب ح وأخبرني عبد الله بن يحيى السكري قال انا محمد بن عبد الله الشافعي قال ثنا جعفر بن محمد بن الأزهر قال ثنا بن الغلابي واللفظ لحديثه قال ثنا سليمان بن حرب قال ثنا حماد عن قبيصة بن مروان بن المهلب عن أبي عمران الجوني قال كنا نسمع بالصحيفة فيها علم فننتابها كما ينتاب الرجل الفقيه حتى قدم علينا ههنا آل الزبير ومعهم قوم فقهاء

Mengkhabarkan kepada kami Abu Umar Abdul Wahid bin Muhammad bin Abdullah bin Mahdi beliau berkata, Mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub bin Syaibah, beliau berkata, menceritakan kepada kami Kakek. Beliau berkata, mendengar Sulaiman bin Harb. Melalui jalan lain, mengkhabarkan kepada saya Abdullah bin Yahya As-Sukri, beliau berkata, mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah Asy-Syafi’i, beliau berkata menceritakan kepada kami Hammad bin Qubaishoh bin Marwan bin Al-Mahalib dari Abu Imron Al-Jauni yang berkata: "Jika kami mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kami pun silih berganti mendatanginya, seakan-akan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az-Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih."

أخبرنا ابن الفضل ، أنا دعلج ، أنا أحمد بن علي الأبار ، ثنا أبو عبيد الله ابن أخي ابن وهب ، ثنا عمي ، ثنا حيوة بن شريح ، عن يزيد بن أبي حبيب ، قال : « أودعني فلان كتابا ـ أو كلمة تشبه هذه ـ فوجدت فيه عن الأعرج قال : وكان يحدثنا بأشياء مما في الكتاب ولا يقول : أخبرنا ولا حدثنا »

Mengkhabarkan kepada kami Ibn Al Fadl, Mengkhabarkan kepada kami Da’laj, Mengkhabarkan kepada kami Ahmad ibn Ali al-A’bari, Menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidillah ibn Akhi ibn Wahb, menceritakan kepada kami pamanku, Menceritakan kepada kami Haiwah Ibn Syuraih dari Yazid ibn Abi Hubaib, beliau berkata: ”Seseorang menitipkan buku kepadaku- atau kalimat yang serupa dengan ini – aku mendapatinya dari ‘Aroj, beliau berkata : ”Jika aku menceritakan sesuatu yang ada dalam kitab, aku tidak berkata : ”Kami mengabarkan” dan tidak pula “Kami menceritakan.“ (selesai dari al-Khatib v)

Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.

12 Agustus 2009

KOREKSI MANGKUL (2)


Koreksi kali ini, kami kumpulkan dari berbagai sumber tulisan-tulisan Ahli Hadits, yang lahir dari pemahaman-pemahaman yang melecehkan para Malaikat, para Nabi dan para Sahabatnya, yaitu:

1. Kisah kemaksiatan Harut Marut yang minum khomer, berzina lalu membunuh bayi.

2. Kisah Adam dan Hawa yang berbuat syirik atas hasutan iblis

3. Kisah Tsalabah

4. Kisah Alqamah dan Ibunya

----------------------------------------------------------


1. Kisah kemaksiatan Harut Marut yang minum khomer, berzina lalu membunuh bayi.

Semua kisah itu batil dan tidak ada yang shohih secara marfu, dan kembali kepada Isrooiliyat sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibn Katsir dalam Tafsir (1/178-179), lihat juga Adh-Dhaifah li Syaikh Al-Albani (no. 170) dan lainnya.

Adapun kita, kita berpegang pada dzahirnya ayat dan kisah Harut Marut secara garis besar tanpa mengada-ngada.


2. Kisah Adam dan Hawa yang berbuat syirik atas hasutan iblis

Kisah ini bermula dari menafsirkan surat Al-A’rof ayat 190:

فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ.

Artinya: Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Mereka mengisahkan bahwa yang dimaksud ayat itu adalah Adam dan Hawa. Lalu mereka menyebutkan suatu kisah, sayang sekali atsar yang meriwayatkannya mungkar.

Ibn Katsir dalam Tafsir (3/540) berkata: “Adapun kami, maka kami sependapat dengan Hasan Al-Basri dalam masalah ini bahwa maksud ayat ini bukanlah Adam dan Hawa namun orang-orang yang berbuat syirik dari anak keturunannya”.

Apa yang Ibn Katsir katakan disetujui oleh Asy-Syintiqhi (2/341) dan Gurunya Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah, yaitu Syaikh Muhammad Rasyid Ridho dalam al-Manar (9/521), dan lainnya.

Syaikh Ibn Utsaimin berkata, “Firman Allah: “Maha Tinggi Allah atas apa yang mereka persekutukan”, menggunakan dhomir jama’ (mereka) seandainya kembali kepada Adam dan Hawa maka akan menggunakan dhomir mutsana (keduanya)” (Al-Qoulul Mufid 3/67-68).


3. Kisah Tsalabah

Kisah ini cukup masyhur, akan tetapi haditsnya lemah sekali, dalam sanadnya ada Mu’an bin Rifa’ah dan Ali bin Yazid, kedunya lemah atau lemah sekali.

Al-Baihaqi berkata, “Sanad hadits ini perlu dikaji ulang lagi, sekalipun masyhur dikalangan ahli tafsir” (Faidhul Qadir li Manawi 4/667).

Ibn Hajar berkata, “Hadits ini lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah” (Fathul Baari 3/266).


4. Kisah Alqamah dan Ibunya

Kisah ini seperti kisah sebelumnya, sangat masyhur sekali, padahal haditsnya Maudhu (palsu), dalam sanadnya ada Faid Abu Warqa, dia ini matruk.

Ibn Jauzi berkata, “Hadits ini tidak shohih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam” (Al-Maudhu’at 3/87).

KOREKSI MANGKUL AL-QUR’AN (I)


Berikut ini kami sajikan kehadapan pembaca yang budiman, koreksi dari Asy-Syaikh Al-Muhadits Muhammad bin Jamil Jainu, pengajar di Darul Hadits Mekkah dalam kitabnya, “Kaifa Nafhamu Al-Qur’an”, terhadap tafsir-tafsir dan makna salah dalam memahami Al-Qur’an, yang termasuk didalamnya pemilik kaidah mangkul.

Maka pada bagian yang pertama ini, akan kami ringkas dan kutip sebagiannya:

1. Nabi Dawud ‘alaihi sallam Berhasrat Kepada Istri Orang

2. Sulaiman ‘alaihi sallam Membunuh Kuda

3. Cincin Sulaiman ‘alaihi sallam dan Jin

4. Yusuf ‘alaihi sallam Ingin Berzina

-------------------------------------------------------------------------------

1. Nabi Dawud ‘alaihi sallam Berhasrat Kepada Istri Orang

Ini berkenaan dengan Surat Shad yat 21-26:

وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ. إِذْ دَخَلُوا عَلَى دَاوُدَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوا لا تَخَفْ خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَى سَوَاءِ الصِّرَاطِ

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat lalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus…. Dan seterusnya

Tafsir Mangkul:

Menurut mereka, ayat ini adalah perumpamaan kepada Nabi Daud ‘alaihi sallam yang menyukai seorang wanita bersuami (Uria). Lalu demi mencapai hasratnya, Daud ‘alaihi sallam mengirimkan suaminya ke suatu peperangan sampai meninggal. Dengan demikian Daud ‘alaihi sallam bisa memperistri wanita itu.

Koreksi :

Ada atsar yang meriwayatkan kisah diatas, akan tetapi palsu, rawinya orang-orang yang lemah. Kisah yang benar adalah sebagaimana yang dikisahkan dzahirnya ayat Al-Qur’an, yaitu mengenai perkara kambing. Salah satu yang berperkara curang terhadap yang lain. Kemudian Nabi Daud ‘alaihi sallam terlanjur menuduh seseorang berbuat dzalim tanpa mendengarkan terlebih dahulu apa yang hendak dikatakan terdakwa. Dakwaan semacam ini merupakan cobaan bagi Daud ‘alaihi sallam dalam menetapkan hukum.

Jadi, masalah ini terjadi dalam masalah hukum bukan dalam masalah perempuan.

2. Sulaiman ‘alaihi sallam Membunuh Kuda

Surat Shad 30-33:

إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصَّافِنَاتُ الْجِيَادُ. فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ. رُدُّوهَا عَلَيَّ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَالأعْنَاقِ.

Makna secara mangkul:

(ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya (Sulaiman) kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku (Yaitu sholat ashar) sampai menghilang (yaitu matahari) dari pandangan". "Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu.

Koreksi :

Mereka menafsirkan عَنْ ذِكْرِ = sholat ashar, padahal yang demikian ini tidak ada dalilnya. Makna yang benar kata عَنْ disini adalah مَنْ sebagaimana dikatakan Ibn Abbas, Asy-Syaukani dan lainnya. Maknanya bahwa termasuk mengingat Rabb, yaitu memelihara kuda termasuk berdzikir kepada Allah karena kuda-kuda biasanya digunakan untuk berjihad sebagaimana dalam surat Al-Anfal 10.

Mereka menafsirkan حَتَّى تَوَارَتْ = yang dimaksud adalah sehingga matahari lenyap atau tenggelam. Padahal makna yang benar adalah: sehingga lenyap dan hilang itu adalah kuda yang menghilang dari pandangan Sulaiman.

Mereka menafsirkan kata al-Massu (مَسْحًا) artinya membasuh/membersihkan dengan kata Al-Qathu yang artinya memotong/menyembelih. Padahal tidak berdalil dan mengandung arti penyiksaan hewan dan penghamburan harta.

Makna yang benar dari ayat-ayat ini adalah :

(ingatlah) ketika dipertunjukkan kepada Sulaiman ‘alaihi sallam kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) dalam rangka mengingat Tuhanku”, sampai kemudian kuda-kuda itu menghilang dari pandangan Sulaiman ‘alaihi sallam ". "Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku". Lalu ia basuh (bersihkan) kaki dan leher kuda itu (sebagai penghargaannya pada kuda-kuda itu).

Inilah makna zhahir dari ayat diatas dan memang tidak mengandung makna lain. Ayat itu sama sekali tidak menunjukan bahwa Sulaiman ‘alaihi sallam telah membunuh kuda-kudanya dan meninggalkan shalat. Inilah yang diyakini oleh ulama yang terpercaya.

Ath-Thabari menukil dari Ibn Abbas: “Ia (Sulaiman) membersihkan bulu-bulu yang tumbuh dileher kuda dan kaki-kakinya karena kecintaan Sulaiman kepada kuda-kuda itu”.

3. Cincin Sulaiman ‘alaihi sallam dan Jin

Diambil dari surat Shad 34:

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Artinya menurut mereka: Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman ‘alaihi sallam dan Kami jadikan (Sulaiman) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat.

Lalu menuturkan kisah bahwa setan telah mengambil cincin Sulaiman ‘alaihi sallam dan ia mengambil alih singgasana Sulaiman ‘alaihi sallam sedangkan Sulaiman ‘alaihi sallam sendiri diusir dari kerajaannya… dan seterusnya sampai akhir cerita.

Koreksi:

Cerita ini batil dan tidak memiliki landasan apapun. Makna yang benar bagi ayat ini adalah sebagaimana terdapat dalam hadits shahih tentang Sulaiman ‘alaihi sallam yang lupa tidak mengucapkan insyaAllah, sehingga yang lahir bayi setengah manusia. Jadi jasad yang tergeletak dikursi adalah jasad bayi itu.

4. Yusuf ‘alaihi sallam Ingin Berzina

Yaitu apa yang tercantum dalam surat Yusuf 24:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya menurut mereka: Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan zina) dengan Yusuf ‘alaihi sallam, dan Yusuf ‘alaihi sallam pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf ‘alaihi sallam itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.

Koreksi:

Makna yang benar dari “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud dengannya”. Adalah wanita itu hendak memukul Yusuf ‘alaihi sallam lantaran Yusuf ‘alaihi sallam menolak permintaannya untuk berzina padahal Yusuf ‘alaihi sallam pelayan wanita itu.

“Dan Yusuf pun bermaksud pula dengan wanita itu”. Maksudnya dan Yusuf ‘alaihi sallam pun berhasrat pula hendak memukulnya untuk melindungi diri dari wanita itu. Namun Yusuf ‘alaihi sallam diperlihatkan suatu tanda oleh Allah berupa isyarat bahwa jika Yusuf ‘alaihi sallam memukul wanita itu, maka pukulan tersebut akan menjadi bukti yang akan membinasakan Yusuf ‘alaihi sallam, karena wanita itu akan berkata, “Dia menginginkan daku, lalu aku melarangnya, maka dia memukulku”, sehingga Yusuf ‘alaihi sallam tidak jadi memukul wanita itu”.

Kisah-kisah diatas muncul kebanyakan dari Bani Israel yang tidak meyakini kemaksuman para Nabi. Wallahu’alam.

11 Agustus 2009

Syaikh Al-Qasimi dan Tidak Mangkul

(Risalah-Risalah Menjelang Ramadhan I).

Oleh Abu Abdillah bin Abu Ainidhiya bin Hasan

Siapa Syaikh Al-Qasimi rahimahullah?

Beliau adalah Al-Allamah Al-Muhadits Syam Asy-Syaikh Abu Faraj Muhammad Jamaluddin bin Muhammad Sa’id bin Qasim bin Sholih bin Ismail bin Abu Bakr yang lebih dikenal dengan Al-Qasimi. Wafat tahun 1332 H/1914 M. Beliau adalah Ahli hadits besar negeri Syam sebelum era Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Bahjat Al-Baithar dan Syaikh Al-Mujadid Nasruddin Al-Albani –semoga Allah merahmati mereka semuanya-.

Syaikh Al-Muhadits Ahmad Syakir adalah salah satu muridnya, beliau pernah berkata tentang gurunya itu, “Pada saat kami menginjak dewasa, kami yang sangat ingin berhias dengan ilmu yang benar, yaitu ilmu Al-Qur’an dan as-Sunnah. Kami sangat antusias dengan kitab-kitab para salafus shalih serta kitab-kitab yang sesuai dengan manhaj mereka dan orang-orang yang datang setelah mereka yang berpegang teguh dengan petunjuk kenabian. Dan mereka mengikuti dalil yang shahih tanpa disertai ta’ashub terhadap suatu pendapat dan hawa nafsu. Serta tidak pula hanya taqlid buta. Guru kami Al-Qasimi rahimahullah adalah orang yang pertama yang berjalan dengan manhaj yang lurus ini…..” (Lihat pengantar kitab Al-Mashu’ala Al-Jaurabain karya Al-Qasimi).

Muridnya yang lain yaitu Syaikh Bahjat Al-Baithar mengatakan bahwa pengaruh Syaikh Jamaluddin al-Qasimi amat besar pada diri beliau, sehingga menyadarkannya dari keterpurukan sufi ke manhaj yang lurus ini. Putera Syaikh Bahjat, Ashim al-Baithar, menyaksikan sendiri bagaimana pengaruh Syaikh Al-Qasimi pada diri ayahnya:

" وكان والدي ملازماً للشيخ جمال الدين ، شديد التعلق به ، وكان للشيخ – رحمه الله- أثر كبير ، غرس في نفسه حب السلفية ونقاء العقيـدة ، والبعد عن الزيف والقشور ، وحسن الانتفاع بالوقت والثبات على العقيدة ، والصبر على المكاره في سبيلها ، وكم كنت أراه يبكي وهو يذكر أستاذه القاسمي"

“Dahulu ayahku belajar pada Syaikh Jamaluddin, hubungan antara keduanya sangat erat, dan Syaikh Jamaluddin amat mempengaruhi kepribadian beliau, Syaikh menanamkan dalam jiwanya kecintaan kepada Salaf dan kebersihan aqidah dari syirik, serta jauh dari kebohongan, menanamkan bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik, menanamkan keteguhan terhadap aqidah, menanamkan kesabaran atas rintangan yang dihadapi di jalannya, sering kali aku menjumpai ayahku menangis ketika terkenang guru beliau (Syaikh Jamaluddin) al-Qasimi.” (Lihat juga adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah Edisi 46, hal. 51-53).

Demikianlah para pembaca yang budiman, mungkin pada beliau lah terlaksananya hadits Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

Artinya : Tidak henti-henti sekelompok dari umatku dalam keadaan dhohir diatas kebenaran, tidak membahayakan orang yang melecehkan mereka sehingga datang perkaranya Allah dan mereka dalam keadaan demikian.

Dalam satu riwayat disebutkan: “Mereka itu di Syam”.

Apa Yang Syaikh Al-Qasimi Katakan Tentang Menukil Dari Kitab, Tanpa Sanad Kepada Pemiliknya?

Dalam kitab beliau Al-Mashu’ala Al-Jaurabain, beliau menulis:

“Diantara yang meyakinkan perasaan hati ini adalah apa yang tercatat didalam kitab Tadribur Rawi karya As-Sayuthi syarah Taqrib An-Nawawi dalam akhir pembahasan hadits shahih, yaitu ungkapannya: Dari Imam Ibn Burhan didalam kitab Al-Ausath: Ahli fiqh secara keseluruhan berpendapat bahwa mengamalkan hadits tidak hanya terbatas dengan mendengarkannya saja, bahkan jika teks hadits itu shahih menurutnya, maka boleh mengamalkan teks hadits itu walaupun tidak didengarkan”.

Ustadz Abu Ishaq Al-Asfarayaini menceritakan kesepakatan atas bolehnya menukil dari beberapa kitab yang menjadi pegangan dan tidak diisyaratkan bahwa sanadnya harus bersambung dengan penulisnya.

Ilkiyah Ath-Thabari berkata dalam Ta’liqnya, “Barangsiapa yang mendapatkan suatu hadits didalam kitab shahih, maka ia boleh meriwayatkannya dan berhujjah dengannya”.

Syaikh Izzuddin bin Abdussalam dalam Masailnya mengatakan: “Para ulama zaman ini telah sepakat mengenai bolehnya berpegang dan menjadikan sandaran terhadap kitab-kitab fiqih yang shahih lagi terpercaya, karena yakin dengannya seperti yakin dengan riwayat”. Oleh karena itu kebanyakan orang berpegang kepada kitab-kitab yang masyhur dalam ilmu nahwu, bahasa, kedokteran dan semua disiplin ilmu pengetahuan, karena adanya keyakinan dengannya dan jauh dari kesamaran”.

Demikian perkataan beliau yang sangat jelas tanpa harus dijelaskan lagi oleh penulis.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala membalas beliau dengan surga.

Kita berdoa kepada Allah agar menampakan yang haq dan menjadikannya sebuah pedang terhunus yang akan membinasakan para pengikut bid’ah dan membongkar kebohongan mereka dihadapan umat, dan membalas kita dengan surga yang paling tinggi, amiin.



01 Agustus 2009

جَزَاكَ الله خَيْرًا

Ini adalah beberapa fatwa yang bermanfaat dari Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala, menjawab beberapa pertanyaan setelah Beliau menjelaskan hadits Usamah bin Zaid radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من صُنِعَ إليه مَعْرُوفٌ فقال لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ الله خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ في الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khaer (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.”

(HR.At-Tirmidzi (2035), An-Nasaai dalam Al-kubra (6/53), Al-Maqdisi dalam Al-mukhtarah: 4/1321, Ibnu Hibban: 3413, Al-Bazzar dalam musnadnya:7/54. Hadits ini dishahihkan Al-Albani dalam shahih Tirmidzi)

Berikut ini fatwa Al-Allamah Abdul Muhsin hafizhahullah, semoga bermanfaat.


Pertanyaan 1:


sebagian ikhwan ada yang menambah pada ucapannya dengan mengatakan “jazakallah khaeran wa zawwajaka bikran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan menikahkanmu dengan seorang perawan),dan yang semisalnya. Bukankah tambahan ini merupakan penambahan dari sabda Rasul shallallahu alaihi wasallam ,dimana beliau mengatakan “sungguh dia telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.?

Beliau menjawab:


Tidak perlu (penambahan) doa seperti ini,sebab boleh jadi (orang yang didoakan) tidak menginginkan do’a yang disebut ini.Boleh jadi orang yang dido’akan dengan do’a ini tidak menghendakinya.Seseorang mendoakan kebaikan,dan setiap kebaikan sudah mencakup dalam keumuman doa ini.Namun jika seseorang menyebutkan do’a ini,bukan berarti bahwa Rasulullah r melarang untuk menambah dari do’a tersebut.Namun beliau hanya mengabarkan bahwa ucapan ini telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. Namun seandainya jia dia mendoakan dan berkata: “jazakallahu khaer wabarakallahu fiik wa ‘awwadhaka khaeran” (semoga Allah membalas kebaikanmu dan senantiasa memberkahimu dan menggantimu dengan kebaikan pula” maka hal ini tidak mengapa.Sebab Rasul Shallallahu alaihi wasallam tidak melarang adanya tambahan do’a.Namun tambahan do’a yang mungkin saja tidak pada tempatnya,boleh jadi yang dido’akan dengan do’a tersebut tidak menghendaki apa yang disebut dalam do’a itu.

Pertanyaan 2:


Ada sebagian orang berkata: ada sebagian pula yang menambah tatkala berdo’a dengan mengatakan : jazaakallahu alfa khaer” (semoga Allah membalasmu dengan seribu kebaikan” ?
Beliau -hafidzahullah- menjawab: “Demi Allah ,kebaikan itu tidak ada batasnya,sedangkan kata seribu itu terbatas,sementara kebaikan tidak ada batasnya.Ini seperti ungkapan sebagian orang “beribu-ribu terima kasih”,seperti ungkapan mereka ini.Namun ungkapan yang disebutkan dalam hadits ini bersifat umum.”

Pertanyaan:

apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga) ?

Beliau menjawab:


“Tidak, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khaer” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu didoakan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian”, namun jika dia mengatakan “jazaakalallahu khaer” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”


(transkrip dari kaset: durus syarah sunan At-Tirmidzi,oleh Al-Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah,kitab Al-Birr wa Ash-Shilah,nomor hadits: 222). (Diterjemahkan oleh Abu Karimah Askari bin Jamal)

Berikut ini transkrip dalam bahasa Arab:

يقول السائل : بعض الإخوة يتطرق فيزيد على (جزاك الله خيرا وزوجك بكرا) ونحو ذلك.أليس في هذا استدراك على قول النبي صلى الله عليه وسلم فإنه يقول ((فقد أبلغ في الثناء))
فأجاب :ولا حاجة بهذا الدعاء قد يكون ما يريد هذا الشيء الذي دعي به ,أي نعم قد يكون الإنسان الذي دعي بهذا أنه لا يريده .فالإنسان يدعو بالخير وكل خير يدخل تحت هذا العموم .فالإنسان يأتي بهذا الدعاء وليس معنى ذلك أن الرسول × نهى عن ذلك يعني لا يزيد على هذا وإنما أخبر أن هذا فيه إبلاغ بالثناء ,لكنه لو دعا له فقال: جزاك الله خيرا وبارك الله فيك وعوضك خيرا ما فيه بأس ,لأن الرسول × مامنع من الزيادة .لكن مثل هذه الزيادة التي قد تكون في غير محلها ,قد يكون صاحب المدعو له لا يريد هذا الشيء الذي دعي له به .
السؤال: والآخر يقول :يزيد البعض فيقول : جزاك الله ألف خير
فأجاب: والله الخير ليس له حد ,ليس له حد والألف هذا محدود,والخير بدون حد .لكن هذا مثل عبارات بعض الناس :ألف شكر شكر مثل ما يعبرون.لكن التعبير بهذا الذي جاء في هذا الحديث عام
السؤال: هل هناك دليل على أن الرد يكون بصيغة (وإياكم)؟
فأجاب: لا , الذي ينبغي أن يقول وجزاكم الله خيرا) يعنى يدعى كما دعا, وإن قال (وإياكم) مثلا عطف على جزاكم ,يعني قول (وإياكم) يعني كما يحصل لنا يحصل لكم .لكن إذا قال: أنتم جزاكم الله خيرا ونص على الدعاء هذا لا شك أنها أوضح وأولى
(
مفرغ من شريط دروس شرح سنن الترمذي ,كتاب البر والصلة ,رقم:222)

Penulis: Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah

Sumber :

http://assalafi.wordpress.com/2009/07/21/ucapan-jazaakallohu-khoir/

http://darussalaf.or.id/stories.php?id=1520
http://ibnulqoyyim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=1

Surat Buat Kelompok –Kelompok Dakwah


Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu
حفظه الله

(Pengajar Di Darul Hadits dan Murid Syaikh Al-Muhadits Al-Albani v)

Sumber : Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 38, hal. 4-18

Download klik disini