Situs ini baik dibuka dengan Windows Arabic atau Windows dengan bahasa default Arabic !!!
بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.أما بعد
20 November 2009
Doa Setiap Selesai baca Al-Qur’an
…اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ
Doa Khatam (tamat membaca seluruhnya) Al-Qur’an didalam shalat atau diluarnya tidak ada yang sah berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Yang paling shahih dalam masalah ini adalah apa yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu bahwa apabila beliau mengkhatamkan Al-Qur’an beliau mengumpulkan keluarganya lalu berdoa dan meminta kebaikan untuk mereka. Tidak dikatahui bagaimana doa beliau itu dan tidak pula diriwayatkan bahwa beliau mengundang selain dari keluarganya.
Atsar itu diriwayatkan oleh Ibn Mubarak dalam Az-Zuhud no. 809, Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushanaf no. 1087, Ad-Darimi (2/468, 469), Thabrani no. 674 dan lainnya. Al-Haitsami dalam Al-Majma (7/172), “Perawinya tsiqah”.
Adapun perbuatan sebagian orang dizaman sekarang yaitu membaca doa khatam al-Qur’an tertentu (kami akan sebutkan takhrijnya dibawah) pada saat selesai membaca Al-Qur’an walaupun bukan mengkhatamkannya, maka terkumpul tiga kesalahan pada mereka:
1.Membaca doa itu –kalau riwayatnya itu shahih- harusnya ketika khatam al-Qur’an bukan ketika selesai membacanya saja.
2.Doa itu diriwayatkan oleh hadits yang mu’dhol jadi haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.
3.Hal ini termasuk bid’ah, karena ibadah itu memerlukan dalil, sedangkan pada perbuatan mereka ini tidak ada dalil.
Doa ini diriwayatkan oleh Abu Manshur Al-Mudhofar bin Al-Husein dalam Fadhoil Al-Qur’an dan Abu Bakar Adh-Dhahak dalam Asy-Syamail dari jalan Abu Dzar Al-Harawi dari riwayat Abu Sulaiman Dawud bin Qais yang berkata, Rasulullah shallallhu’alaihi wasalam bersabda tatkala khotam Al-Qur’an : lalu menyebutkan doa diatas.
Al-Bahuti dalam Kasyful Qana’ (3/273) berkata: Ibn Jauzi berkata: “Hadits Mu’dhol”. Hadits ini terdapat dalam Ihya Ulumuddinnya Al-Ghazali (1/278), Al-Iraqi dalam Takhrijnya terhadap Al-Ihya juga menganggap hadits ini mu’dhol. Az-Zarkasi dalam Al-Burhan fi Ulumul Qur’an (1/475 –cet Darul Ihyaul Kutub) menyandarkannya kepada Baihaqi dalam Ad-Dalail tapi sebenarnya tidak ada didalam kitab itu. Ibn Al-Jazri dalam An-Nasyr fi Qiro’atil Asyr (2/510) menjelaskan bahwa Dawud bin Qais ini adalah Al-Fara’ Ad-Dabagh Al-Madani dari Tabi’it Tabi’in, jadi terputus riwayatnya jika dimarfukan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam.
Lihat pula Fatawa Arkanul Islam, hal. 354 - Syaikh ibn Utsaimin dan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Juz’unnya: 'Marwiyyat Doa Khatmi Al-Qur’an'.
Kesimpulannya: Doa ini tidak sah untuk diamalkan pada setiap selesai membaca atau mengkhatamkan Al-Qur’an, apalagi dilazimkan (dirutinkan) dan bahkan diwajibkan, yang karenanya manusia akan merasa kurang jika tidak membacanya. Yang demikian lahir bukan dari orang yang senang ibadah, bukan pula lahir dari orang yang mencukupkan diri kepada sunnah, wallahu’alam.
“Ibnu Umar memandang mereka (Khawarij) sebagai makhluk terjelek dan menyatakan: ‘Sunguh mereka mengambil ayat-ayat yang turun untuk orang kafir lalu menerapkannya untuk kaum mukminin“.
Pasal tentang persoalan berhukum selain hukum Allah Ta’ala.
Mengkhabarkan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafizh: telah mengkhabarkan kepada kami Ahmad bin Sulaiman Al-Mausili: menceritakan kepada kami Ali bin Harb: menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah dari Hisyam bin Hujair dari Thawus beliau berkata: Berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu (saat menafsirkan ayat di atas): “Sesungguhnya ia bukanlah kekufuran sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah kekufuran yang mengeluarkan dari agama (murtad). ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’; yaitu kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duna kufrin)”.
Diriwayatkan juga oleh Said bin Manshur dalam As-Sunan (4/1482 no. 749), Ahmad dalam Al-Iman (4/160 no. 1419), Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah (2/736 no. 1010), Muhammad bin Nashr Al-Marwazi dalam Ta’dhiim Qadrish-Shalah (2/521 no. 569), Ibnu Abi Hatim dalam At-Tafsir (4/1143 no. 6364), Ibnu ‘Abdil-Barrdalam At-Tamhiid (4/237), Al-Hakim (2/313); yang kesemuanya melalui jalan Sufyan bin ‘Uyainah, dari Hisyam bin Hujair, dari Thawus, dari Ibnu ‘Abbas. Al-Hakim berkata: “Hadits ini sanadnya shahih, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”.Dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi. Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah (6/113) berkomentar, “Dan yang benar bagi mereka berdua adalah untuk mengatakan: “(Shahih) atas persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, karena sanadnya adalah seperti itu”.
Abu Abdillah berkata: Al-Hafidz Ibnu Baththah Al-‘Ukbari telah memasukkan perkataan Ibnu ‘Abbas dari riwayat ‘Abdurrazzaq ini dalam kitabnya Al-Ibanah (2/723) pada bab :
ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به من الملّة
“Penyebutan dosa-dosa yang menyebabkan pelakunya terjerumus pada kekufuran, tanpa mengeluarkannya dari agama (murtad)”.
Al-Hafidz Ibnu ‘Abdil Barr dalam At-Tamhid (17/16) berkata:
وقد ضلت جماعة من أهل البدع من الخوارج والمعتزلة في هذا الباب فاحتجوا بهذه الآثار ومثلها في تكفير المذنبين، واحتجوا من كتاب الله بآيات ليست على ظاهرها مثل قوله عزّ وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾
“Dan sungguh telah sesat sekelompok ahlul-bida’ dari Khawarij dan Mu’tazillah dalam bab ini. Mereka berhujjah dengan atsar-atsar ini dan yang semisal dengannya untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa. Mereka juga berhujjah dengan ayat-ayat Kitabullah tidak sebagaimana dhahirnya seperti firman Allah ’Azza Wa Jalla: ”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”.
Abu Abdillahberkata: Ini lah yang dijadikan hujjah Imam Tirmidizidalam Sunan, setelah menyebutkan hadits no. 2635:
Dan sungguh telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Thowus, Atho dan selainnya dari banyak ahli ilmu yang berkata, “Kufrun duna kufrin dan fusukun duna fusukin”.
Dan berpeganglah kepada tali Allah jami’an, dan janganlah kamu bercerai berai (Ali Imron 103).
Maknanya ada dua, dan dua-duanya benar yaitu semakna:
Makna Pertama,
جميعاmaknanya semuanya yaitu semua kaum muslimin hendaknya berpegang teguh dengan Tali Allah. Sebagaimana firman Allah:
قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا
“Katakanlah: "Hanya kepunyaan Allah syafaat itu jami’an” (Qs. Az-Zumar 44). Yaitu semuanya, tanpa kecuali.
Makna Kedua,
جميعاdimaknai (مجتمعين عليه), maksudnya jadilah kalian semua orang-orang yang bersatu diatasnya yaitu diatas Tali Allah (Kitabullah dan Sunnah). Jadikanlah Kitabullah dan Sunnah sebagai pemutus perselisihan diantara kamu sekalian, sehingga kalian tidak bercerai berai.
Lihat Tafsir Al-Baidhawi (1/73), Tafsir Ibn ‘Ajibah (1/315), Tafsir Al-Alusy (4/19), dan Ibnu Jauzi dalam Zadul Masir (1/433).
Kedua makna itu tidak saling bertentangan. Sebab Allah Ta’ala memerintahkan kita semua tanpa kecuali agar berpegang teguh dengan Tali Allah yaitu Kitabullah dan Sunnah, menjadikan keduanya sebagai pemersatu, walaupun badan kadang tidak ada disatu tempat.
Kesimpulan
Jadi sebagimana sering dinasehatkan bahwa siapa saja, dimana saja, kapan saja, dan dalam keadaan bagaimana pun haruslah berpegang teguh dengan Tali Allah.
Walhamdulillah.
15 Oktober 2009
Tentang Dibencinya Perkumpulan Sirriyah
(38). Ibn Abi Ashim v dalam Kitabus Sunnah (no 887):
ثنا الحسن بن علي الحلواني ، والحصين بن البزار ، قالا : ثنا محمد بن الصباح ، ثنا سعيد بن عبد الرحمن الجمحي ، عن عبيد الله بن عمر ، عن نافع ، عن ابن عمر ، قال : جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أوصني . قال : « اعبد الله ولا تشرك به شيئا ، وأقم الصلاة، وآت الزكاة ، وصم رمضان ، وحج البيت ، واعتمر ، وَاسْمَعْ وَأَطِعْ وَعَلَيْكَ بِالْعَلاَنِيَّةِ وَإِيَّاكَ وَالسِّرَّ »
Menceritakan kepada kami Al-Hasan ibn Ali Al-Halwani dan Al-Hushain bin Al-Bazar, berkata keduanya: menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ash-Shabah, menceritakan kepada kami Sa’id ibn Abdurahman Al-Jamhi dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi dari Ibnu Umar a yang berkata: Datang seorang laki-laki kepada Nabi n dan berkata: “Ya Rasulullah nasihati saya”. Beliau n bersabda: "Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan puasalah dibulan ramadhan, hajilah ke Baitullah dan umrohlah. Dengar dan taatlah (kepada pemerintah), lazimilah keterbukaan, dan waspadailah sirriyah (ketertutupan/kerahasiaan)".
Hadits ini dikuatkan oleh Imam Al-Albani v dalam Zhilal Al-Jannah (no. 1070), beliau berkata: “Isnadnya jayyid”. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 165, beliau berkata, “Shahih dengan syarat Bukhori dan Muslim”, dan disetujui adz-Dzahabi. Dikeluarkan pula oleh Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 3975), semuanya dari jalan Muhammad bin Sabah. Juga disebutkan Ibn Adi dalam Al-Kamil (3/399).
(39). Imam Ahmad v dalam Az-Zuhud no. 1694:
حدثنا عبد الله ، حدثنا عبد الله بن عمرو ، حدثنا ابن المبارك ، أخبرني الأوزاعي قال : قال عمر بن عبد العزيز : إِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يَتَنَاجَوْنَ فِيْ دِيْنِهِمْ دُوْنَ الْعَامَّةِ فَاعْلَمْ أَنَّهُمْ عَلَى تَأْسِيْسِ ضَلاَلَةٍ
Menceritakan kepada kami Abdullah, menceritakan kepada kami Abdullah bin Amru, menceritakan kepada kami Ibn Mubarak, mengkhabarkan kepada saya Al-Auzai beliau berkata, Umar bin Abdil Aziz v berkata: "Jika engkau melihat suatu kaum yang berbisik-bisik (berbicara rahasia) tentang agama mereka, tanpa orang banyak, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merintis kesesatan".
Atsar ini diriwayatkan lagi oleh Ahmad pada no. 1705, Ad-Darimi dalam As-Sunan (no. 313), dan Al-Lalika'i dalam Syarh Ushul I'tiqod Ahlus Sunnah wal Jama'ah (no. 219 dan no. 1093), dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan Al-Ilm (3/160).
Pasal Tentang Tidak Sahnya Bai’at Rahasia,
Dengan Tanpa Diketahui Kaum Muslimin
(40). Imam Ahmad vmeriwayatkandalam Musnad Ahmad (1/55) no. 391 sebuah hadits yang panjang, dibawah ini adalah ringkasannya, beliau berkata :
Menceritakan kepada kami Ishaq ibn Isa At-Tabba’ dia berkata, menceritakan kepada kami Malik ibn Anas, dia berkata, telah bercerita kepada ku Ibn Syihab dari Ubaidullah ibn Abdullah ibn Utbah ibn Mas’ud bahwa Ibn Abbas membertahukan kepadanya bahwa Abdurrahman ibn Auf kembali ke rumahnya, Ibn Abbas berkata, “Aku ingin memberikan salam kepada Abdurrahman bin Auf, maka ia menjumpaiku sementara aku telah menunggunya –peristiwa itu terjadi di Mina pada waktu Umar bin Khattab melaksanakan haji yang terakhir- maka Abdurrahman berkata, “Seseorang pernah mendatangi Umar dan berkata, “Ada orang yang mengatakan jika Umar wafat maka aku akan membai’at si fulan”!. Maka Umar menjawab, “Selepas shalat isya nanti aku akan berbicara pada manusia sambil memperingatkan mereka dari sekelompok orang-orang yang ingin mencari masalah” ….
Kemudian Umar a melanjutkan nasihatnya: “Demi Allah kami tidak pernah menemui perkara yang paling besar dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tinggalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at yang mereka buat yang pasti akan menimbulkan kehancuran, maka barangsiapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah dengan kaum muslimin terlebih dahulu, maka tidak ada bai’at baginya. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh”.
Hadits ini dalam Bukhari no. 6329.
(41). Imam Ibn Abi Ashim v dalam Al-Mudzakkir wa At-Tadzkir hal. 91:
حدثنا أبو بكر بن ابي شيبة نا محمد بن بشر ثنا عبيد الله ابن عمر عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، عَنْ أَبِيْهِ ، قَالَ : بَلَغَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَنَّ نَاسًا يَجْتَمِعُوْنَ فِيْ بَيْتِ فَاطِمَةَ فَأَتَاهَا فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, مَا كَانَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيْكَ وَلاَ بَعْدَ أَبِيْكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْكِ فَقَدْ بَلَغَنِيْ أَنَّ هؤُلاَءِ النَّفَرَ يَجْتَمِعُوْنَ عِنْدَكَ, وَايْمُ اللهِ لَئِنْ بَلَغَنِيْ ذَلِكَ لأَحَرِّقَنَّ عَلَيْهِمُ الْبَيْتَ, فَلَمَّا جَاءُوْا فَاطِمَةَ قَالَتْ : إِنَّ ابْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّهُ فَاعِلُ ذَلِكَ ، فَتَفَرَّقُوْا حَتَّى بُوْيِعَ لأَبِيْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
Menceritakan kepada kami Abu Bakar ibn Abi Syaibah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami Ubaidullah ibn Umar dari Zaid ibn Aslam dari Bapaknya, beliau berkata: "Telah sampai (suatu berita) kepada Umar bin Khathab a bahwa ada beberapa orang yang akan berkumpul di rumah Fathimah. Maka Umar mendatangi Fathimah seraya berkata, "Wahai Putri Rasulullah n, tak ada seorang pun yang yang lebih kami cintai dibandingkan ayahmu, dan tak ada orang yang paling kami cintai setelah ayahmu dibandingkan anda. Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ada beberapa orang yang berkumpul di sisimu (secara rahasia). Demi Allah, jika sampai berita hal itu kepadaku, maka sungguh aku akan membakar rumah mereka". Tatkala mereka mendatangi Fathimah, maka Fathimah berkata, "Sesungguhnya Umar bin Khathab berkata demikian dan demikian. Sungguh ia akan melakukan hal itu". Lalu merekapun berpencar sehingga Abu Bakar a dibai’at".
Dan telah meriwayatkan pula Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/572/4), semisal ini.
(42). Imam Ahmad v dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah (2/573) no. 969 :
قثنا إسحاق بن يوسف قثنا عبد الملك يعني بن أبي سليمان عن سلمة بن كهيل عن سالم بن أبي الجعد عن محمد بن الحنفية قال كنت مع علي وعثمان محصور قال فأتاه رجل فقال ان أمير المؤمنين مقتول ثم جاء آخر فقال ان أمير المؤمنين مقتول الساعة قال فقام علي قال محمد فأخذت بوسطه تخوفا عليه فقال خل لا أم لك قال فأتى علي الدار وقد قتل الرجل فأتى داره فدخلها وأغلق عليه بابه. فأتاه الناس فضربوا عليه الباب فدخلوا عليه فقالوا إن هذا الرجل قد قتل ولا بد للناس من خليفة ولا نعلم أحدا أحق بها منك فقال لهم علي لا تريدوني فإني لكم وزير خير مني لكم أمير فقالوا لا والله ما نعلم أحدا أحق بها منك قال فإن أبيتم علي فإن بيعتي لا تكون سرا ولكن أخرج إلى المسجد فمن شاء أن يبايعني بايعني قال فخرج إلى المسجد فبايعه الناس
Sungguh telah menceritakan kepada kami Ishaq ibn Yusuf, sungguh menceritakan kepada kami Abdul Malik yakni Ibn Abi Sulaiman dari Salamah ibn Kuhail dari Salim ibn Abi Al-Ja’di dari Muhammad ibn Hanafiyah ia berkata, “Aku bersama Ali saat Utsman dikepung, lalu datanglah seorang laki-laki dan berkata, “Amirul mukminin telah terbunuh”. Kemudian datang laki-laki lain dan berkata, “Sesungguhnya amirul mukminin baru saja terbunuh”. Ali segera bangkit namun aku cepat mencegahnya karena khawatir keselamatan beliau. Beliau berkata, “Celaka kamu ini!”. Ali segera menuju kediaman Utsman dan ternyata Utsman telah terbunuh. Beliau pulang ke rumah lalu mengunci pintu. Orang-orang mendatangi beliau sambil mengedor-ngedor pintu lalu menerobos masuk menemui beliau. Mereka berkata, “Lelaki ini (Utsman) telah terbunuh. Sedangkan orang-orang harus punya khalifah. Dan kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Tidak, kalian tidak menghendaki diriku, menjadi wazir bagi kalian lebih aku sukai daripada menjadi amir”. Mereka berkata, “Tidak demi Allah kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu”. Ali berkata, “Jika kalian tetap bersikeras, maka bai’atku bukanlah bai’at yang rahasia. Akan tetapi aku akan ke mesjid, barangsiapa ingin membai’atku maka silahkan ia membai’atku”. Ali pun pergi ke mesjid dan orang-orang pun membai’at beliau.
Atsar ini dikeluarkan juga oleh Abu Bakar Al-Khalal v dalam As-Sunnah no. 629 dan no. 630, kemudian aku melihat bahwa Al-Ajuri v mengeluarkannya juga dalam Asy-Syari’ah no. 1194. Isnad atsar ini hasan, karena Abdul Malik bin Abi Sulaiman shaduq, telah ditsiqahkan oleh lebih dari satu orang.
(43). Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid v dalam Hukmul Intima’(hal. 128),
أن البيعة في الإسلام واحدة, من ذوي الشوكة: أهل الحل والعقد لولي أمر المسلمين وسلطانهم, وأن مادون ذلك من البيعات الطرقية والحزبية في بعض الجماعات الإسلامية المعاصرة كلها بيعات لاأصل لها في الشرع لا من كتاب الله ولا سنة رسوله nولا عمل صحابي, ولا تابعي, فهي بيعات مبتدعة وكل بدعة ضلالة وكل بيعة لا أصل لها في الشرع فهي غير لازمة العهد, فلا حرج ولا إثم في تركها و نكثها, بل الإثم في عقدها, لأن التعبدبهاأمر محدث لا أصل له ناهيك عما يترتب عليها من تثقيق الأمة, وتفرقها شيعا, وإثارة الفتن بينها, واستعداء بعضها على بعض, فهي خارجة عن حد الشرع سواء سميت بيعة أو عهدا أو عقدا
"Sesungguhnya bai’at dalam Islam adalah satu, berasal dari ahlul halli wal aqdi (tokoh-tokoh masyarakat) kepada pemerintah dan penguasa kaum muslimin. Sesungguhnya bai’at selain itu berupa bai’at-bai’at tarekat dan hizbiyyah pada sebagian jama’ah-jama’ah Islamiyyah masa kini, semua bai’at ini adalah bai’at-bai’at yang yang tak ada asalnya dalam syari’at, baik dari Kitabullah, Sunnah Rasulullah n, amaliah seorang sahabat, dan tabi’in. Itu adalah bai’at-bai’at bid’ah. Sedang setiap bid’ah adalah sesat; setiap bai’at yang tak ada asal (dasar)nya dalam syari’at maka bai’at-bai’at itu tak perlu dijaga. Karenanya, tak ada masalah, dan dosa ketika meninggalkannya, dan melanggarnya. Bahkan ada dosa ketika melakukannya. Karena ta’abbud (mendekatkan diri) dengannya adalah perkara baru yang tidak ada dasarnya. Belum lagi masalah yang timbul dari akibat bai’at-bai’at tersebut berupa penceraiberaian umat, pemecah-belahan umat menjadi berkelompok-kelompok, memancing fitnah (polemik) diantara mereka, pelampauan batas atas satu kelompok dengan kelompok lain. Jadi, bai’at-bai’at ini keluar dari batasan syari’at; sama saja apakah ia diistilahkan dengan "Bai’at", "janji", atau "akad" (persetujuan)".
(44). Syaikh Amru Abdul Mun’im Salim dalam kitab Al-Manhaj As-Salafi Inda Syaikh Nasruddin Al-Albani hal. 233, mengutip perkataan Syaikh Nasiruddin Al-Albaniv:
إنهم يستدلون بهذا الحديث وبالتالي إن بعضهم يطبقون على أمرائهم الذين يبايعونهم, مشل قوله عليه الصلاة والسلام : من مات وليس فِي عنقه بيعة مات ميتة جاهلية، ولذلك فهم يؤمرون أميراً، ويبايعونه، هذا الأمير ليس هو الذي يجب أن يبايع. وإنما على المسلمين أن يعملوا بكل ما أوتوا من قوة ومن علم لإ عادة المجتمع الإسلامي الذي يتطلب أن يقوم عليه رجل واحد هوالخليفة الذي يجب على كل المسلمين ان يبايعوه، أما هذه الجماعة تؤمر عليها أميرا وتوجب على الآفراد البيعة وإنهم إذا لم يبايعوه ماتوا ميتة جاهلية, فهذا من تحريف الكلم عن مواضعه وهذا مما يجوز للمسلم أنيقع فيه.
“Sesungguhnya mereka (jama’ah-jama’ah hizbiyah) berdalil dengan hadits ini (Hadits imammah dan jama’ah), lalu sebagian mereka menerapkannya kepada pemimpin mereka yang mereka telah membai’atnya, seperti sabda Rasulullah n: “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada bai’at, maka matinya seperti mati dalam keadaan jahiliyah”. Oleh karena itu mereka mengangkat amir, dan membai’atnya. (padahal) Amir seperti ini bukan amir yang wajib dibai’at. Dan apa-apa (yang wajib) bagi kaum muslimin adalah bekerja dengan setiap kekuatan dan ilmu untuk mengembalikan masyarakat Islami yang menuntut bangkitnya seorang laki-laki sebagai Khalifah yang wajib dibai’at oleh setiap orang Islam. Adapun jama’ah-jama’ah yang ada sekarang mengangkat seorang amir diantara mereka, dan tiap anggota diwajibkan berbai’at kepadanya. Dan jika ada yang tidak membai’atnya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah !!, ini tindakan penyimpangan (tahrif) kalimat dari posisinya, dan tidak boleh terjadi seperti ini bagi kaum muslimin”.
“…. Yang mendirikan shalat dan menginfakan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka”. (Surat Al-Baqarah 3)
(42). Ibn Jarir Ath-Thabari v dalam Tafsir (1/243) no. 286:
حدثني المثنى، قال: حدثنا عبد الله بن صالح، عن معاوية، عن علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس،"ومما رزقناهم ينفقون"، قال: زكاةَ أموالهم
Menceritakan kepada saya Al-Mutsana yang berkata: menceritakan kepada kami Abdullah bin Sholih dari Mu’awiyah dari Ali bin Abi Tholhah dari Ibn Abbas a tentang firman Allah : “dan menginfakan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka”. Dia berkata: “Maksudnya adalah mengeluarkan zakat dari harta kekayaan yang ia miliki”.
Dikeluarkan dari jalan lain dari Ibn Abbas pada nomor 285.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah berkata dalam Majmu Al-Fatawa (13/361-362),
“Barangsiapa yang berpaling dari mazhab sahabat dan tabi’in dan tafsir mereka kepada yang menyelisihinya, maka ia telah salah, bahkan sebagai ahli bid’ah. Kalau ia sebagai mujtahid akan diampuni kesalahannya. Dan kita mengetahui sesungguhnya Al-Qur’an telah dibaca oleh para sahabat dan tabi’in dan yang mengikuti mereka. Dan sesungguhnya mereka lebih mengetahui tentang tafsir Al-Qur’an dan makna-maknanya sebagaimana mereka lebih tahu tentang kebenaran yang Allah telah mengutus Rasul-NYa dengan membawa kebenaran itu”.
Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.
Wajibnya Pengetahuan
Sesungguhnya Allah Ada Di Langit (Diatas Arsy)
Allah Ta’ala berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Ar-Rahman, Yang bersemayam di atas 'Arsy”. (Thaahaa 5).
Imam Ad-Darimi v dalam Radd Alal Jahmiyah no. 20 :
حدثنا مسلم بن إبراهيم الأزدي ، ثنا أبان وهو ابن يزيد العطار ، عن يحيى بن أبي كثير ، عن هلال بن أبي ميمونة ، عن عطاء بن يسار ، عن معاوية بن الحكم السلمي ، رضي الله عنه قال : كانت لي جارية ترعى غنما لي في قبل أحد والجوانية ، وإني اطلعت يوما اطلاعة فوجدت ذئبا ذهب منها بشاة ، وإني رجل من بني آدم ، آسف كما يأسفون ، فصككتها صكة، فعظم ذلك على النبي صلى الله عليه وسلم ، فقلت : أفلا أعتقها ؟ ، فقال : « ادعها » ، فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم : « أين الله ؟ » قالت : في السماء . قال : « فمن أنا ؟ » قالت : أنت رسول الله قال : « أعتقها ، فإنها مؤمنة »
Menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrohim Al-Azdi, menceritakan kepada kami Aban yaitu Ibn Yazid Al-‘Athar dari Yahya bin Abi Katsir dari Halal bin Abi Maimunah dari Atho bin Yasar dari Mu’awiyah bin Hakam As-Salami a berkata, “Dahulu aku mempunyai kambing yang tersebar antara Uhud dan Jawaniyah dan ditunggui oleh budak wanita milik ku. Pada suatu hari aku melihatnya (mendapat laporan) bahwa seekor srigala telah membawa seekor kambing. Karena aku adalah cucu Adam, aku kemudian memarahi dan memukulinya dengan kuat. Kemudian aku mendatangi Rasulullah n dan menceritakan semua itu kepada beliau. Beliau n menganggap permasalahan tersebut sebagai masalah yang besar. Kemudian aku berkata, “Apakah aku harus memerdekakannya?”. Beliau n menjawab, “Panggil dia”. Aku pun memanggilnya, kemudian Rasulullah n berkata kepadanya, “Dimanakah Allah?”. Ia menjawab, “Di atas langit”. Beliau n bertanya lagi, “Siapakah aku?”. Ia menjawab, “Engkau adalah utusan Allah”. Beliau n berkata, “Merdekakanlah ia, karena ia telah menjadi seorang perempuan yang beriman”.
Lihat juga Malik (3/5-6 – Tanwirul Hawalik), Muslim no. 537, Abu Dawud no. 930-931, Nasai no. 1218, Ahmad (5/447, 448, 449) Abu Dawud Ath-Thayalisi no. 1105, Ibn Jarud dalam Al-Muntaqa (no. 212), Baihaqi (2/249-250), Ibn Khuzaimah dalam At-Tauhid (hal. 121-122), Ibn Abi Ashim dalam As-Sunnah (no. 489), Al-Lalikai no. 652, dan lainnya.
Imam Ad-Darimi v dalam Radd Alal Jahmiyah berkata,
هذا دليل على أن الرجل إذا لم يعلم أن الله عز وجل في السماء دون الأرض فليس بمؤمن ولو كان عبدا فأعتق لم يجز في رقبة مؤمنة ، إذ لا يعلم أن الله في السماء . ألا ترى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم جعل أمارة إيمانها معرفتها أن الله في السماء ؟ وفي قول رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أين الله ؟ » تكذيب لقول من يقول : هو في كل مكان ، لا يوصف ب «أين»
“Didalam hadits Rasulullah n ini terdapat dalil. Bahwa seseorang apabila tidak mengetahui sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berada diatas langit bukan dibumi tidaklah dia seorang mu’min. tidaklah engkau perhatikan bahwa Rasulullah n telah menjadikan tanda keimanan budak perempuan itu lewat pengetahuan sesungguhnya Allah berada diatas langit. Dan didalam pertanyaan Rasulullah n kepada budak perempuan, “Dimanakah Allah?”. Juga mendustakan perkataan orang yang mengatakan bahwa Allah berada dimana-mana dan tidak boleh disifatkan dengan pertanyaandimana”.
Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.
Imam Al-Khatib al-Baghdadi v dalam Al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah halaman 354 Tentang Wijadah
(Pada terjemahan Al-Kifayah fi Ilmi ar-Riwayah ini kami dibantu oleh Ustadz Deni, jazakallahukhoiro)
Pertama kali akan kami ulangi bahwa bantahan kami kepada ilmu mangkul bukan berarti kami menentang kebiasaan ahli hadits dalam hal sema’an (pembacaan hadits) atau ijazah sanad-sanad hadits sampai kepada penulis kitab, sebab kami pun memilikinya, tetap memakainya dan mempertahankannya dengan teguh. Akan tetapi Ahlus sunnah berada diantara berlebih-lebihan dan berkurang-kurangan. Maka kami tidak berlebihan sebagaimana Madigol berlebih-lebihan yang bahkan Islam menurutnya tidak sah kecuali dengan mangul, Subhanallah.
Imam Al-Khatib al-Baghdadi v berkata:
ذكر بعض أخبار من كان من المتقدمين يروي عن الصحف وجادة ما ليس بسماع له ولا إجازة
“Penyebutan sebagian khabar tentang orang-orang terdahulu yang meriwayatkan dari mushaf dan mendapatkan (hadits) apa yang tidak lewat pendengaran dan tidak lewat ijazah”.
أخبرنا الحسن بن أبي بكر بن شاذان ، أنا أحمد بن سلمان الفقيه النجاد ، ثنا إسماعيل بن إسحاق ، ثنا إسحاق بن محمد الفروي ، ثنا عبد الله بن عمر ، عن نافع ، عن ابن عمر ، أنه وجد في قائم سيف عمر بن الخطاب رضي الله عنه صحيفة فيها : « ليس فيما دون خمس من الإبل صدقة ، فإذا كانت خمسا ففيها شاة ، وفي عشر شاتان ، وفي خمس عشرة ثلاث شياه ، وفي عشرين أربع شياه ، فإذا بلغت خمسا وعشرين ففيها ابنة مخاض ، وذكر الحديث بطوله »
Mengkhabarkan kepada kami Al-Hasan ibn Abu Bakr ibn Syadzan, beliau berkata : mengkhabarkan kepada kami Ahmad ibn Sulaiman An-Najad Al-Faqihi, beliau berkata, menceritakan kepada kami Ismail ibn Ishaq, beliau berkata, menceritakan kepada kami Ishaq ibn Muhammad Al-Farawi, beliau berkata, menceritakan kepada kami Abdullah ibn Umar dari Nafi dari Ibn Umar. Sesungguhnya beliau mendapatkan pada gagang pedang peninggalan Umar ibn Khattaba sebuah lembaran (tertulis didalamnya): “Tidak ada zakat di bawah lima unta, jika ada lima unta maka (zakatnya) satu kambing, pada sepuluh (zakatnya) dua kambing, pada lima belas (zakatnya) tiga kambing dan pada dua puluh (zakatnya) empat kambing. Apabila sampai dua puluh lima maka (zakatnya) anak unta yang umurnya masuk dua tahun. - beliau menyebutkan hadis dengan panjang- .
أخبرنا محمد بن الحسين ، أنا عبد الله بن جعفر ، ثنا يعقوب بن سفيان ، حدثني أبو بكر الحميدي ، ثنا سفيان ، ثنا مساور يعني الوراق ، عن أخيه سيار ، قال : قيل للحسن : يا أبا سعيد : « عمن هذه الأحاديث التي تحدثنا ؟ قال : صحيفة وجدناها »
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad ibn Husain, mengkhabarkan kepada kami Abdulloh Ibn Ja’far, menceritakan kepadaku Ya’kub Ibn Sufyan, menceritakan kepadaku Abu Bakr al Humaidy, menceritakan kepada kami Sufyan, menceritakankepada kami Musawir yakni Al Waroq dari saudaranya Sayyar. Beliau berkata: Dikatakan kepada Al-Hasan: ”Hai Abu Said, darimana hadits yang engkau riwayatkan ini?. Beliau menjawab: “Dari lembaran yang kami menemukannya“.
أخبرنا ابن رزق ، أخبرنا عثمان بن أحمد ، ثنا حنبل بن إسحاق ، ثنا علي يعني ابن المديني قال : سمعت يحيى هو ابن سعيد يقول : قال التيمي : « ذهبوا بصحيفة جابر إلى الحسن فرواها ، أو قال : فأخذها ، وأتوني بها فلم أردها ، قلت ليحيى : سمعت هذا من التيمي ؟ فقال برأسه ، أي نعم »
Mengabarkankepada kami ibn Abdul Rozzaq, mengabarkankepada kami ‘Utsman ibn Ahmad, menceritakan kepadaku Hambal Ibn Ishaq menceritakan kepadaku ‘Ali yaitu Ibn Al Madini. Beliau berkata: ”Saya mendengar Yahya yaitu Ibn Said berkata: berkata al-Taimy : ”Mereka pergi membawa satu lembaran (milik) Jabir kepada Al-Hasan lalu mereka melihatnya. Atau ia berkata: “Kemudian mengambilnya dan memberikannya kepadaku walaupun aku tidak meng-hendakinya”. Aku (Ibn Al-Madini) berkata kepada Yahya: ”Engkau mendengar ini dari at-Taimy ?”. Dia menjawab dengan kepalanya (mengangguk), yaitu benar (aku telah mendengarnya).“
أخبرني ابن الفضل ، أنا دعلج ، أنا أحمد بن علي الأبار ، ثنا الحسن يعني ابن علي الحلواني ، ثنا عفان ، قال : قال لي همام بن يحيى : « قدمت أم سليمان اليشكري بكتاب سليمان ، فقرئ على ثابت ، وقتادة ، وأبي بشر ، والحسن ومطرف ، فرووها كلها ، وأما ثابت فروى منها حديثا واحدا»
Telah mengkhabarkan kepadaku Ibn Al Fadl, mengkhabarkan kepada kami Da’laj, mengkhabarkan kepada kami Ahmad ibn Ali al Abari, menceritakan kepada kami al-Hasan yakni Ibn Ali al-Hilwani, menceritakan kepada kami ‘Affan, beliau berkata: ”Berkata kepadaku Hammam ibn Yahya : “Ummu Sulaiman al-Yasykari datang membawa catatan Sulaiman. Lalu dibacakan kepada Tsabit, Qotadah, Abi Basyar, al-Hasan dan Muthorif. Kemudian mereka melihat semua catatan-nya, sedangkan Tsabit (kemudian) meriwayatkan dari catatan itu sebuah hadits”.
أخبرنا أبو نعيم الحافظ ، ثنا محمد بن أحمد بن الحسن ، ثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة ، ثنا علي بن عبد الله المديني ، قال : قال يحيى : رأيت في كتاب عندي عتيق لسفيان حدثني عبد الله بن ذكوان أبو الزناد ، حدثني ابن سعيد ، حدثني أبو صالح مولى السفاح حديث زيد : « » عجل لي وأضع لك « قال هذا يحيى من أجل توصيل إسناده » حدثني « قال : » حدثني « »
Menceritakan kepada kami Abu Naim Al-Hafidz, menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ahmad ibn Al-Hasan, menceritakan kepada kami Muhammad Ibn ‘Utsman Ibn Abi Syaibah, menceritakan kepada kami ‘Ali ibn Abdillah al-Madaini, beliau berkata: ”Berkata Yahya : “Aku melihat dalam kitab sedangkan didekatku ‘Atiq: “Untuk Sufyan, menceritakan kepada ku Abdullah ibn Dzakwan Abu Zinad, menceritakan kepadaku Ibnu Sa’id, menceritakan kepadaku Abu Sholih Maula Al Saffah pada hadisnya Zaid: “Berilah tempo kepadaku aku titipkan kepadamu“. Lalu berkata: ”Ini Yahya sebab bersambung sanad haditsnya“. (maka katakan) “Menceritakan kepada ku”. Maka dia pun berkata: ”Menceritakan kepadaku.“
أخبرنا الحسين بن علي الطناجيري ، أنا عمر بن أحمد الواعظ ، ثنا محمد بن جعفرالعسكري ، ثنا جعفر بن أبي عثمان ، قال : سمعت علي بن المديني ، يقول : « وائل بن داود لم يسمع من ابنه ، إنما كانت له صحيفة في بيته »
Mengabarkan kepada kami al-Husain ibn Ali al-Thonajiry, mengkhabarkan kepada kami Umar ibn Ahmad al-Waidzi, menceritakan kepada kami Muhammad ibn Ja’far al-‘Askary, menceritakan kepada kami Ja’far ibn Abi ‘Utsman. Beliau berkata: “Aku mendengar Ali al-Madaini berkata : “Wail ibn Daud tidak mendengar dari anaknya, sesungguhnya beliau mempunyai satu tulisan di rumahnya“.
أخبرنا محمد بن عبد الواحد الأكبر ، أنا محمد بن العباس الخزاز ، ثنا أحمد بن سعيد السوسي ، ثنا العباس بن محمد ، قال : سمعت يحيى بن معين ، يقول : ثنا وكيع ، قال : سمعت شعبة ، يقول : « حديث أبي سفيان عن جابر ، إنما هي صحيفة »
Mengkhabarkan kepada kami Muhammad ibn abdil Wahid al Akbari, mengkhabarkan kepada kami Muhammad Ibn Al-Abbas Al-Khozzazi, menceritakankepada kami Ahmad Ibn Said As-Sausy, menceritakan kepadaku Al-Abbas Ibn Muhammad. Beliau berkata: ”Aku mendengar Yahya Ibn Ma’in berkata: ”Menceritakan kepada kami Waki’, beliau berkata: ”Aku mendengar Syu’bah berkata: ”Hadits Abi Sufyan dari Jabir adalah berasal dari lembaran“.
أخبرنا القاضي أبو العلاء محمد بن علي الواسطي ، أنا أبو مسلم بن مهران ، أنا عبد المؤمن بن خلف النسفي ، قال : سألت أبا علي صالح بن محمد البغدادي عن عمرو بن شعيب ، فقال : « ثقة ، ولكن أحاديثه لا أدري كيف هي ، وأحاديثه صحيفة ورثوها »
Mengkhabarkan kepada kami al-Qodhi Abu Al-A’lai Muhammad Ali Al-Washity, mengkhabarkan kepada kami Abu Muslim ibn Mahron, mengkhabarkan kepada kami Abdul Mu’min ibn Kholaf An-Nasafy, beliau berkata: ”Aku bertanya kepada Abu Shalih ibn Muhammad al-Baghdadi dari ’Umar ibn Syu’aib. Lalu beliau berkata: ”Terpercaya, tetapi hadits-haditsnya aku tidak mengetahui bagaimana keadaannya. Dan hadits-haditsnya berasal dari lembaran yang mereka wariskan“.
أخبرنا أبو عمر عبد الواحد بن محمد بن عبد الله بن مهدي قال أنا أبو بكر محمد بن أحمد بن يعقوب بن شيبة قال ثنا جدي قال سمعت سليمان بن حرب ح وأخبرني عبد الله بن يحيى السكري قال انا محمد بن عبد الله الشافعي قال ثنا جعفر بن محمد بن الأزهر قال ثنا بن الغلابي واللفظ لحديثه قال ثنا سليمان بن حرب قال ثنا حماد عن قبيصة بن مروان بن المهلب عن أبي عمران الجوني قالكنا نسمع بالصحيفة فيها علم فننتابها كما ينتاب الرجل الفقيه حتى قدم علينا ههنا آل الزبير ومعهم قوم فقهاء
Mengkhabarkan kepada kami Abu Umar Abdul Wahid bin Muhammad bin Abdullah bin Mahdi beliau berkata, Mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Ya’qub bin Syaibah, beliau berkata, menceritakan kepada kami Kakek. Beliau berkata, mendengar Sulaiman bin Harb. Melalui jalan lain, mengkhabarkan kepada saya Abdullah bin Yahya As-Sukri, beliau berkata, mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Abdullah Asy-Syafi’i, beliau berkata menceritakan kepada kami Hammad bin Qubaishoh bin Marwan bin Al-Mahalib dari Abu Imron Al-Jauni yang berkata: "Jika kami mendengar tentang adanya sebuah lembaran yang terdapat padanya ilmu, maka kami pun silih berganti mendatanginya, seakan-akan kami mendatangi seorang ahli fiqih. Sampai kemudian keluarga az-Zubair datang kepada kami disini dan bersama mereka orang-orang faqih."
أخبرنا ابن الفضل ، أنا دعلج ، أنا أحمد بن علي الأبار ، ثنا أبو عبيد الله ابن أخي ابن وهب ، ثنا عمي ، ثنا حيوة بن شريح ، عن يزيد بن أبي حبيب ، قال : « أودعني فلان كتابا ـ أو كلمة تشبه هذه ـ فوجدت فيه عن الأعرج قال : وكان يحدثنا بأشياء مما في الكتاب ولا يقول : أخبرنا ولا حدثنا »
Mengkhabarkan kepada kami Ibn Al Fadl, Mengkhabarkan kepada kami Da’laj, Mengkhabarkan kepada kami Ahmad ibn Ali al-A’bari, Menceritakan kepada kami Abu ‘Ubaidillah ibn Akhi ibn Wahb, menceritakan kepada kami pamanku, Menceritakan kepada kami Haiwah Ibn Syuraih dari Yazid ibn Abi Hubaib, beliau berkata: ”Seseorang menitipkan buku kepadaku- atau kalimat yang serupa dengan ini – aku mendapatinya dari ‘Aroj, beliau berkata : ”Jika aku menceritakan sesuatu yang ada dalam kitab, aku tidak berkata : ”Kami mengabarkan” dan tidak pula “Kami menceritakan.“(selesai dari al-Khatib v)
Dari kitab kami : Kumpulan Hadits, Atsar dan Perkataan Ulama Bantahan Bagi Madigoliyah (Jilid 1), insyaAllah akan segera diterbitkan oleh Pustaka Darul Hadits.
12 Agustus 2009
KOREKSI MANGKUL (2)
Koreksi kali ini, kami kumpulkan dari berbagai sumber tulisan-tulisan Ahli Hadits, yang lahir dari pemahaman-pemahaman yang melecehkan para Malaikat, para Nabi dan para Sahabatnya, yaitu:
1.Kisah kemaksiatan Harut Marut yang minum khomer, berzina lalu membunuh bayi.
2.Kisah Adam dan Hawa yang berbuat syirik atas hasutan iblis
1.Kisah kemaksiatan Harut Marut yang minum khomer, berzina lalu membunuh bayi.
Semua kisah itu batil dan tidak ada yang shohih secara marfu, dan kembali kepada Isrooiliyat sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibn Katsir dalam Tafsir (1/178-179), lihat juga Adh-Dhaifah li Syaikh Al-Albani (no. 170) dan lainnya.
Adapun kita, kita berpegang pada dzahirnya ayat dan kisah Harut Marut secara garis besar tanpa mengada-ngada.
2.Kisah Adam dan Hawa yang berbuat syirik atas hasutan iblis
Kisah ini bermula dari menafsirkan surat Al-A’rof ayat 190:
Artinya: Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Mereka mengisahkan bahwa yang dimaksud ayat itu adalah Adam dan Hawa. Lalu mereka menyebutkan suatu kisah, sayang sekali atsar yang meriwayatkannya mungkar.
Ibn Katsir dalam Tafsir (3/540) berkata: “Adapun kami, maka kami sependapat dengan Hasan Al-Basri dalam masalah ini bahwa maksud ayat ini bukanlah Adam dan Hawa namun orang-orang yang berbuat syirik dari anak keturunannya”.
Apa yang Ibn Katsir katakan disetujui oleh Asy-Syintiqhi (2/341) dan Gurunya Syaikh Abdul Dhohir Abu Samah, yaitu Syaikh Muhammad Rasyid Ridho dalam al-Manar (9/521), dan lainnya.
Syaikh Ibn Utsaimin berkata, “Firman Allah: “Maha Tinggi Allah atas apa yang mereka persekutukan”, menggunakan dhomir jama’ (mereka) seandainya kembali kepada Adam dan Hawa maka akan menggunakan dhomir mutsana (keduanya)” (Al-Qoulul Mufid 3/67-68).
3.Kisah Tsalabah
Kisah ini cukup masyhur, akan tetapi haditsnya lemah sekali, dalam sanadnya ada Mu’an bin Rifa’ah dan Ali bin Yazid, kedunya lemah atau lemah sekali.
Al-Baihaqi berkata, “Sanad hadits ini perlu dikaji ulang lagi, sekalipun masyhur dikalangan ahli tafsir” (Faidhul Qadir li Manawi 4/667).
Ibn Hajar berkata, “Hadits ini lemah dan tidak dapat dijadikan hujjah” (Fathul Baari 3/266).
4.Kisah Alqamah dan Ibunya
Kisah ini seperti kisah sebelumnya, sangat masyhur sekali, padahal haditsnya Maudhu (palsu), dalam sanadnya ada Faid Abu Warqa, dia ini matruk.
Ibn Jauzi berkata, “Hadits ini tidak shohih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam” (Al-Maudhu’at 3/87).
ولو قلت: أنا مسلم على الكتاب والسنة لما كفى أيضا، لأن أصحاب الفرق ـ من أشاعرة وماتريدية وحزبيين ـ يدعون اتباع هذين الأصلين كذلك ، ولاشك أن التسمية الواضحة الجلية الميزة البينة هي أن نقول : أنا مسلم على الكتاب و السنة و على منهج سلفنا الصالح، وهي ان نقول باختصار: أنا سلفي
“Kalau kamu berkata, ‘Aku seorang muslim yang berlandaskan dengan Al-Kitab (Al-Qur’an) dan as-Sunnah”. Yang seperti inipun belum cukup, karena seluruh pengikut kelompok dan golongan yang ada –Asy’ariyah, Maturidiyah, dan Hizbiyyun- mengklaim bahwa mereka juga mengikuti dua pokok utama ini. Penamaan yang jelas, gamblang, dan dapat membedakan kita dengan yang lain adalah : ‘Aku seorang muslim dengan berdasarkan Al-Qur’an, as-Sunnah dan pemahaman Salafus Shalih”, atau berkata secara ringkas, “Aku Salafi”.
Sumber : Syaikh Amru Abdul Mun’im Salim dalam kitab Al-Manhaj As-Salafi Inda Syaikh Nasruddin Al-Albani hal. 21
Malik bin Anas rahimahullahu berkata:
كل أحد يؤخذ من قوله ويترك إلا صاحب هذا القبر صلى الله عليه وسلم
Artinya : “Setiap orang pasti boleh diambil ucapannya dan juga boleh ditinggalkan selain ucapan penghuni kuburan ini (yaitu Rasulullah) shollallahu’alaihi wasallam”.
Hari-Hari Terakhir 1
-
Inilah
HARI-HARI TERAKHIR
MENJELANG KIAMAT
Abu Abdillah ibn Hasan
Artikel ini membantah banyak praduga manusia tentang hari-hari di bumi
menjel...
-
AL-Imam Al-Hafizh Ibn Qayyim rahimahullahu berkata:
“Sebab-Sebab Tangisan”
Tangisan yang keluar karena mendengar Al-Qur’an atau yang lainnya disebabka...