Situs ini baik dibuka dengan Windows Arabic atau Windows dengan bahasa default Arabic !!!
Headline News: Hati-Hati dengan trik terbaru tapi jadul dari Madigoliyah: menyeru kepada persatuan, persaudaraan dan persamaan tujuannya agar dakwah kita berhenti, maka katakan tidak ada perdamaian dengan kebatilan !!!"

بسم الله الرحمن الرحيم

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله. أما بعد

Fatwa Syaikh Bazmul Khusus Tentang Jama'ah Nur Hasan Al-Ubaidah (Madigoliyyah)

Terjemahan Fatwa Syaikh Bazmul :

Fatwa Syaikh Abdurrazaq Al-Badr (Muhadits Madinah) Tentang Islam Jama'ah

02 Desember 2011

Jawaban Bagi Orang Yang Berhujjah Dengan Kisah Keluarnya Imam Ibn Nasr Al-Khuzai Al-Marwadzi Dari Penguasa Kaum Muslimin


Pertama.
Mereka berkata bahwa telah keluar (memberontak) Imam Ahmad bin Nasr Al-Khuza’i rahimahullahu kepada Khalifah Al-Watsiq sampai kemudian terbunuh. Bahkan katanya Imam Ahmad rahimahullahu mensifati Imam Ibnu Nasr rahimahullahu dengan ucapan, “Seorang Pejuang fi sabilillah”. Dan Ibnu Mu’in rahimahullahu berkata tentangnya, “Beliau seorang syuhada”.
Ketahuilah ikhwah fillah… kisah ini sebenarnya tidak shahih !!!
Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikhnya (6/397):
حدثني القاضي أبو عبد الله الصميري قال حدثنا محمد بن عمران المزرباني قال أخبرني محمد بن يحيى الصولي قال
Menceritakan kepada saya Al-Qodhi Abu Abdillah Ash-Shamairi yang berkata: menceritakan kepada kami Muhammad bin Imran Al-Mazrubani (mungkin yang benar itu Marzubani -pen) yang berkata: mengkhabarkan kepada saya Muhammad bin Yahya Ash-Shuliy yang berkata:…. Kemudian dia menceritakan kisahnya yang panjang.
Padahal Muhammad bin Yahya ini tidak pernah mendapati zaman Imam Ibnu Nasr. Sungguh antara wafatnya Imam Ibn Nasr Al-Marwadzi dan Muhammad bin Yahya ini terpaut waktu 100 tahun lebih. Bahkan Muhammad bin Yahya ini sebenarnya adalah muridnya Abu Dawud, padahal seorang Abu Dawud saja tidak mendengar langsung dari Ibnu Nasr.
Kedua
Andaikata shahih, sama sekali kisah diatas bukan pembenaran bagi aqidah batil mereka dalam memberontak kepada penguasa muslim dan mengangkat salah satu diantara mereka sebagai amir tandingan secara rahasia. Karena bai’at Ibnu Nasr itu bukan bai’at untuk amirul mukminin tetapi bai’at parsial yang kadang para ulama membedakannya dengan menyebutnya ‘ahd (janji). Oleh sebab itu dalam kisah diatas Imam Ibnu Nasr rahimahullahu masih menyebut Khalifah Al-Watsiq dalam persidangan, “Wahai amirul mukminin…”, “Ya amirul mukminin..” dst.
Ketiga
Andaikata shahih kisah diatas, telah datang pengingkaran dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu tatkala datang kepadanya semua ahli fiqh Baghdad di zamannya –mungkin saja Ibnu Nasr termasuk didalamnya-, menghadap kepada Ahmad –sebab beliaulah pemimpin para ulama dizamannya- untuk memecahkan persolahan ini, dan mengatakan kepada beliau bahwa fitnah al-Qur’an sebagai mahluk sangat parah dan menyebar pesat, mereka berkata :
أن نشاورك في أنا لسنا نرضى بإمرته ، ولا سلطانه
“Kami ingin bermusyawarah denganmu bahwa kami sudah tidak ridha terhadap keamiran dan kekuasaannya”.
Imam Ahmad berdiskusi dengan mereka, lalu mengatakan :
عليكم بالنكرة بقلوبكم ، ولا تخلعوا يدا من طاعة ، ولا تشقوا عصا المسلمين ، ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم ، انظروا في عاقبة أمركم ، واصبروا حتى يستريح بر ، أو يستراح من فاجر
“Wajib bagi kalian mengingkarinya dengan hati, janganlah keluar dari ketaatan kepadanya, jangan memecah-belah kaum muslimin (seperti dengan membuat kelompok-kelompok hizbi –pen), dan janganlah menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin (seperti dilakukan kaum teroris –pen). Pikirkanlah akhir dari perkara ini, bersabarlah hingga orang baik bisa tenang dan orang-orang jahat berhenti melakukan hal itu”.
Beliau menambahkan :
هذا خلاف الآثار
“Ini (keluar dari ketaatan kepada imam) menyelisihi atsar (sunnah)”. (Driwayatkan oleh Al-Khalal dalam As-Sunnah (1/106) no. 96, lihat Ibn Muflih dalam Adab Asy-Syari’ah (1/195-196))
Imam Ahmad memberi contoh bagaimana berpegang dengan sunnah di zaman fitnah yang gelap gulita. Beliau tidak menyerukan kaum muslimin untuk memberontak, tidak menyerukan mereka mendirikan jama’ah tandingan bagi penguasa, tidak membuat kelompok-kelompok rahasia, bahkan beliau menolak memenuhi keinginan ahli-ahli fiqh yang berkumpul kepadanya. Beliau menganggap orang-orang yang membuat jama’ah-jama’ah tandingan bagi para pemimpin yang berkuasa sebagai pemecah belah kaum muslimin.
Dalam Ushul Sunnah, Imam Ahmad menulis (no. 33):
ومن خرج على إمام من أمة المسلمين وقد كان الناس اجتمعوا عليه وأقروا له بالخلاقة بأي وجه كان بالرضا أو بالغلبة فقد شق هذا الخارج عصا المسلمين، وخالف الآثار عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فإن مات الخارج عليه مات ميتة جاهلية.
“Barangsiapa keluar terhadap seorang pemimpin dari pemimpin muslimin, padahal manusia telah bersatu dan mengakui kepemimpinan baginya dengan cara apapun, baik dengan ridho atau dengan kemenangan (dalam perang dan lainnya), maka sungguh orang tersebut telah memecahbelah persatuan kaum muslimin dan menyelisihi atsar-atsar dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasalam, dan apabila ia mati dalam keadaan demikian maka matinya seperti mati jahiliayah”.
Keempat
Andaikata shahih kisah diatas, sungguh telah menyebutkan bahwa Imam Ibnu Nasr rahimahullahu sendiri telah menyebutkan agar orang-orang lebih mengikuti Imam Ahmad bin Hambal, beliau mengatakan, “
رأيت النَّبِيّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي المنام فقلت: يا رَسُول اللَّهِ بمن نقتدي فِي عصرنا هذا قَالَ: عليك بأحمد بْن حنبل.
“Aku telah melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam tidurku, aku bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, kepada siapa kami harus mengikuti (dalam masalah agama) dizaman kami ini?”. beliau berkata kepada ku, “Hendaklah engkau mengikuti Ahmad bin Hambal”. (Thabaqat Hanbaliah (1/81)).
Kelima
Adapun kutipan dari Imam Ibnu Mu’in, Imam Ahmad serta yang lainnya tentang shahidnya Ibnu Nasr, yang demikian itu terkait kisah (yang shahih) tentang Ibnu Nasr, bahwa beliau terbunuh dalam fitnah al-qur’an sebagai mahluk bukan terkait dengan pemberontakan terhadap khalifah (karena terbukti tidak shahih). Beliau dibunuh karena mempertahankan aqidahnya, sebagaimana beberapa ulama lain di zaman itu, bukan dibunuh gara-gara memberontak kepada khalifah.
Diantara ulama yang dibunuh oleh penguasa dizaman fitnah itu dan tetap bersabar tanpa taqiyah selain beliau contohnya Imam Nu’aim bin Hammad gurunya Imam Bukhori, dan Imam Muhammad bin Nuh (lihat Tahdzib Al-Kamal (1/510). Cobaan itu menimpa pula Imam Ahmad bin Hambal sebagaimana kisahnya sangat terkenal. Walaupun demikian mereka tetap bersabar dan tidak menyerukan pemberontakan sama sekali bahkan menolak untuk melakukan makar.
Sekali lagi ini bukan hujjah buat mereka. wallahu'allam.

30 November 2011

Situs Baru Kami :

Yang diambil dari buku kami :

"BANTAHAN ILMIYAH UNTUK ISLAM JAMA'AH"

lihat disini :

http://abuqueensaba.blogspot.com/

19 November 2011

Perkataan Mereka: Apakah Salafi Bisa Menjamin Kita Masuk Surga Sebagaimana Jokam?


Dalam makalah CAI disebutkan,

“… setelah pengajian malam hari, beberapa santrinya diajak berkendaraan keliling kota melihat-lihat keadaan dan kejadian yang ada, “Coba lihat orang gelandangan itu. Mereka miskin bukan karena banyak membela agama Alloh. Lagi pula mereka rugi dua kali. Dunianya asor, akhiratnya masuk neraka”.

Bahkan dalam satu riwayat pernah dinukil ucapan semisal,

“Kalau saudara-saudara mengira diluar kita masih ada orang yang bisa masuk surga, maka sebelum berdiri, saudara sudah kafir, sudah murtad, harus tobat dan bai’at kembali”. (Bahaya Islam Jama’ah hal. Xxii.)

Padahal kita beribadah kepada Allah karena surga adalah milik Allah. Dia yang berhak memasukan seseorang ke dalam surga dan berhak pula menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Tidak boleh mahluk berlagak sebagai pemilik surga dan neraka dengan mendahului Allah Ta’ala. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam tidak mengetahui siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka kecuali apa-apa yang diberitakan oleh-Nya.

Lantas apakah Haji Nur Hasan dan anak-anak penggantinya, bisa menjamin dirinya sendiri masuk surga dan selamat dari neraka?!!

Allah Ta’ala berfirman:

لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ

“Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami lah yang mengetahui mereka”. (Surat At-Taubah 101)

Imam Abdurrazaq meriwayatkan tafsir Qatadah tentang ayat ini, 

عن معمر ، عن قتادة في قوله تعالى : ( وممن حولكم من الأعراب منافقون) إلى قوله تعالى : ( لا تعلمهم نحن نعلمهم ) ، قال : «  فَمَا بَالُ أَقْوَامٍ يَتَكَلَّفُونَ علم الناس ؟ قال : فُلانٌ فِي الْجَنَّةِ، وَفُلانٌ فِي النَّارِ، فَإِذَا سَأَلْتَ أَحَدُهُمْ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ: لا أَدْرِي، لَعَمْرِي لأَنْتَ بِنَفْسِكَ أَعْلَمُ مِنْكَ بِأَعْمَالِ النَّاسِ، وَلَقَدْ تَكَلَّفْتَ شَيْئًا مَا تَكَلَّفَهُ الأنبياء قبلك ، قال نبي الله نوح: { قَالَ وَمَا عِلْمِي بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } [الشعراء: 112] وقال نبي الله شعيب: { بَقِيَّةُ اللَّهِ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَمَا أَنَا عَلَيْكُمْ بِحَفِيظٍ } [هود: 86] وقال الله لنبيه صلى الله عليه وسلم: { لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ }

Dari Ma’mar dari Qatadah dalam Firman Ta’ala: “Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik” sampai firman-Nya: “Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka”. Beliau berkata: “Apa maksudnya orang-orang yang berlagak sok tahu mengatakan si fulan di surga dan si fulan di neraka, padahal jika engkau tanya salah satu dari mereka tentang dirinya sendiri, ia akan berkata, “Tidak tahu”. Mereka lancang mulut mengatakan sesuatu yang para nabi pun tidak dapat mengatakannya. Nabiyullah Nuh berkata, “Bagaimana aku mengetahui apa yang mereka kerjakan” (Asy-Asyu’ara 112). Dan Nabiyullah Syu’aib berkata, “Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman, dan aku bukanlah seorang penjaga (yang mengetahui) atas dirimu” (Hud 86). Sedang Allah berfirman kepada Nabi-Nya (Muhammad) dalam ayat ini : “Engkau tidak mengetahui mereka, Kami mengetahui (keadaan) mereka”. (Tafsir no. 1082)

Atsar ini disebutkan Ibn Abi Hatim dalam Tafsir (no. 10744) dan Ibn Katsir (4/204-205).

Bahkan dalam banyak riwayat Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mencela seorang yang memastikan surga seorang yang meninggal di masa beliau, padahal orang yang meninggal itu termasuk dalam “jama’ah dan rukyah” langsung beliau shallallahu’alaihi wasallam… !!!

Imam Tirmidzi meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْبَغْدَادِىُّ حَدَّثَنَاَ عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِى عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ تُوُفِّىَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ يَعْنِى رَجُلٌ أَبْشِرْ بِالْجَنَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَوَلاَ تَدْرِى فَلَعَلَّهُ تَكَلَّمَ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ أَوْ بَخِلَ بِمَا لاَ يَنْقُصُهُ ». قَالَ هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ.

Menceritakan kepada kami Sulaiman bin Abdul Jabbar Al-Baghdadi menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats menceritakan kepada kami Bapak dari Al-‘A’masy dari Anas radhiyallahu’anhu bahwasannya seorang laki-laki meninggal pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Lalu seseorang berkata, “Bergembiralah dengan surga”. Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Apakah yang engkau tahu tentang dia? Bukan mustahil bahwa ia pernah mengucapkan kata-kata yang tidak perlu bagi dia atau dia telah bakhil terhadap sesuatu yang tidak dibutuhkannya”. Tirmidzi berkata: Ini hadits gharib. (Sunan Tirmidzi no. 2316)

Imam Bukhori meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي خَارِجَةُ بْنُ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ أَنَّ أُمَّ الْعَلَاءِ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ بَايَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهُ اقْتُسِمَ الْمُهَاجِرُونَ قُرْعَةً فَطَارَ لَنَا عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ فَأَنْزَلْنَاهُ فِي أَبْيَاتِنَا فَوَجِعَ وَجَعَهُ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ فَلَمَّا تُوُفِّيَ وَغُسِّلَ وَكُفِّنَ فِي أَثْوَابِهِ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يُدْرِيكِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَكْرَمَهُ فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَنْ يُكْرِمُهُ اللَّهُ فَقَالَ أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي قَالَتْ فَوَاللَّهِ لَا أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ أَبَدًا

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Kharijah bin Zaid bin Tsabit bahwa Ummu Al 'Ala' seorang wanita Kaum Anshar yang pernah berbai'at kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengabarkannya bahwa; Ketika Beliau sedang mengundi pembagian sahabat Muhajirin (untuk tinggal di rumah-rumah sahabat Anshar sesampainya mereka di Madinah), maka 'Utsman bin Mazh'un mendapatkan bagiannya untuk tinggal bersama kami. Akhirnya dia kami bawa ke rumah-rumah kami. Namun kemudian dia menderita sakit yang membawa kepada kematianya. Setelah dia wafat, maka dia dimandikan dan dikafani dengan baju yang dikenakannya. Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam datang lalu aku berkata, kepada Beliau: "Semoga rahmat Allah tercurah atasmu wahai Abu As-Sa'ib ('Utsman bin Mazh'un). Dan persaksianku atasmu bahwa Allah telah memuliakanmu". Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkata: "Dari mana kamu tahu bahwa Allah telah memuliakannya?" Aku jawab: "Demi bapakku, wahai Rasulullah, siapakah seharusnya orang yang dimuliakan Allah itu?" Beliau menjawab: "Adapun dia, telah datang kepadanya Al Yaqin (kematian) dan aku berharap dia berada diatas kebaikan. Demi Allah meskipun aku ini Rasulullah, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan-Nya terhadapku". Dia (Ummu Al 'Ala') berkata: "Demi Allah, tidak seorangpun yang aku anggap suci setelah peristiwa itu selamanya". (Shahih Bukhori no. 2687).

Imam Muslim juga meriwayatkan semisal itu,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ عَمَّتِهِ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دُعِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى جَنَازَةِ صَبِيٍّ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ طُوبَى لِهَذَا عُصْفُورٌ مِنْ عَصَافِيرِ الْجَنَّةِ لَمْ يَعْمَلْ السُّوءَ وَلَمْ يُدْرِكْهُ قَالَ أَوَ غَيْرَ ذَلِكَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ لِلْجَنَّةِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ وَخَلَقَ لِلنَّارِ أَهْلًا خَلَقَهُمْ لَهَا وَهُمْ فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Thalhah bin Yahya dari bibinya, 'Aisyah binti Thalhah dari 'Aisyah ummul Mu'minin dia berkata; "Pada suatu ketika, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah diundang untuk melayat jenazah seorang bayi dari kaum Anshar. Kemudian saya (Aisyah) berkata kepada beliau; 'Ya Rasulullah, sungguh berbahagia bayi kecil ini! Ia seperti seekor burung dari sekian burung surga yang belum pernah berbuat dosa dan belum pernah ternodai oleh dosa.' Mendengar pernyataan tersebut, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: 'Mungkin juga tidak seperti itu hai Aisyah. Sebenarnya Allah telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni surga ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk (sulbi) bapak-bapak mereka. Dan sebaliknya, Allah pun telah menciptakan orang-orang yang akan menjadi penghuni neraka ketika mereka masih berada dalam tulang rusuk bapak-bapak mereka” (Shahih Muslim no. 2662).

Lalu darimana Haji Nur Hasan dan imam-imam palsu penggantinya itu mengetahui bahwa orang yang bergabung dengan jamaa’ahnya kalau mati akan masuk surga ?!! Bukankah ini suatu kelancangan kepada Alloh Ta’ala?!! . Sedangkan bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saja tidak menghukumi seseorang dalam surga dan dalam neraka kecuali berdasarkan wahyu ?!!!

Ini perkara besar wahai saudaraku !!!

Oleh sebab itu ulama-ulama ahlus sunnah sangat berhati-hati….
Imam Ahmad meringkas itiqad ahlus sunnah dalam masalah ini,

وَلاَ نَشْهَدُ عَلَى أَهْلِ الْقِبْلَةِ بِعَمَلٍ يَعْمَلُهُ بِجَنَّةٍ وَلاَ نَارٍ نَرْجُو لِلصَّالِحِ وَنَخَافُ عَلَيْهِ وَنَخَافُ عَلَى الْمُسِيءِ الْمُذْنِبِ وَنَرْجُو لَهُ رَحْمَةَ اللهِ

“Dan kami tidak memberikan persaksian atas ahlul qiblah (yakni muslimin) bahwa ia pasti masuk surga atau neraka karena sebuah amalan yang dia amalkan. Kami berharap kebaikan bagi seorang yang shalih tapi kami tetap khawatir terhadapnya. Kami juga khawatir terhadap seorang yang berbuat jelek dan dosa, tapi kami tetap mengharap rahmat Allah untuknya”. (Ushulus Sunnah hal. 50 – cet Darul Manar).

Sementara Imam Ath-Thahawi mengatakan,

وَنَرْجُو لِلْمُحْسِنِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَيُدْخِلَهُمُ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِهِ، وَلاَ نَأْمَنُ عَلَيْهِمْ، وَلاَ نَشْهَدُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ. وَنَسْتَغْفِرُ لِمُسِيئِهِمْ، وَنَخَافُ عَلَيهِمْ، وَلاَ نَقْنَطُهُمْ.

“Kami berharap untuk orang-orang yang berbuat baik dari mukminin semoga Allah mengampuni mereka dan memasukkan mereka ke dalam Al-Jannah dengan rahmat-Nya. Kami tidak merasa aman atas mereka (dari azab Allah) serta kami tidak mempersaksikan bahwa mereka pasti masuk al-jannah. Kami juga memintakan ampun untuk orang-orang yang berbuat dosa (dari kalangan mukmimin) dan kami khawatir (azab Allah) atas mereka tapi kami tidak putus asa (akan datangnya rahmat Allah) untuk mereka”. (Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 61-62 – cet Maktab Al-Islami).

Jangan heran saudaraku…. Janganlah heran….
Jika kita mendengar orang-orang jahil diantara jokam mengatakan kepada kita, “Kalau kita keluar dan bergabung kepada ‘salafi’ apakah ‘salafi’ bisa menjamin kita masuk surga sebagaimana dalam jokam !!!”

masyaAlloh, mereka hanyalah korban dari doktrin yang menyesatkan “para pemilik surga palsu

16 September 2011

Surat Tobat Jokam Dari Masa ke Masa


(Surat Tobat dibelakang Peraturan Bernomer Imam Jokam - Jakarta)
Biasanya setelah membacakan Peraturan Bernomer ini jokam diminta segera menulis Surat Tobat



 (Contoh Surat Tobat Lainnya - Daerah Jakarta Selatan)


(Contoh Surat Tobat Versi Lainnya - Garut Jadul)


 (Surat Tobat Cetakan Lainnya - Garut)


(Surat Tobat Cetakan Lainnya - ana tidak tahu dimana asal Surat Tobat ini)

Bagi yang masih punya versi didaerah masing-masing kalau mau di sharing boleh dikirim ke e-mail blog ini.

09 September 2011

Sanad dan Ijazah



Sanad Mu Hilang Di Becak….?!

……………………………………..

Tentang perkara sanad atau ijazah kitab-kitab hadits ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Pertama, Sanad-sanad atau ijazah kitab-kitab hadits seperti ini masih banyak, bahkan para ulama selain Madigoliyah justru memiliki lebih banyak sanad dan ijazah. Sanad dari jalur guru Nur Hasan al-Ubaidah seperti Syaikh Umar Hamdan saja diriwayatkan oleh banyak sekali ulama diseluruh dunia. Seperti misalkan oleh Syaikh Yasin Padani (seorang ulama dari Padang Indonesia), Syaikh Hasan Masyath (Ulama dari Mekkah), Syaikh Ghumari (dari Maroko), dan masih banyak yang lainnya.

Silahkan download disini biografi sekaligus juga nama-nama murid Syaikh Umar Hamdan yang terkenal (klik)jazakallahukhoiro kepada akhi Abu Hudzaifah hafizhahullahu atas infonya

Belum lagi ulama-ulama lain dari selain jalur beliau. Kami telah sering memberikan contoh-contohnya.

Lihat disini (klik)

Atau disini (klik)

Kedua, sanad dan ijazah seperti ini bukanlah jaminan kebenaran dalam hal aqidah dan manhajnya. Bukan pula jaminan orang yang memberi ijazah akan sama aqidah dan manhajnya dengan orang yang diberi ijazah. Dahulu pun contohnya sangat banyak, para perawi yang meriwayatkan hadits tapi mereka memiliki pemahaman menyimpang seperti Khawarij, Murji’ah dan lainnya.

Misalkan ada perawi yang bernama: Imron bin Hiththan seorang perowi dalam Shahih Bukhori, lihat dihadits no. 5835 dan 5952. Walaupun Imam Bukhori meriwayatkan dari jalur dia, sebenarnya dia berpema-haman Khawarij. Imron semula adalah ahlus sunnah, kemudian diakhir hidupnya berubah karena terpengaruh oleh istrinya.

Al-Hafizh Ibnu Atsakir menyebutkan kisahnya,

قال تزوج عمران بن حطان امرأة من الخوارج ليردها عن دين الخوارج فغيرته إلى رأي الخوارج

“… Bahwa Imran bin Hiththan menikahi perempuan Khawarij (dengan tujuan) untuk mengeluarkan perempuan tersebut dari pemahaman Khawarijnya. Akan tetapi, perempuan itulah yang justru kemudian mengubah Imran menjadi Khawarij” (Tarikh Dimasyq 43/490).

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,

عمرَان بن حطَّان السدُوسِي الشَّاعِر الْمَشْهُور كَانَ يرى رَأْي الْخَوَارِج قَالَ أَبُو الْعَبَّاس الْمبرد كَانَ عمرَان رَأس القعدية من الصفرية وخطيبهم وشاعرهم انْتهى والقعدية قوم من الْخَوَارِج كَانُوا يَقُولُونَ بقَوْلهمْ وَلَا يرَوْنَ الْخُرُوج بل يزينونه وَكَانَ عمرَان دَاعِيَة إِلَى مذْهبه

“Imran bin Hiththan as-Sudusi, seorang penyair terkenal. Ia berfaham Khawarij. Abu Abbas al-Mubarrad berkata, ‘‘Imran bin Hiththan adalah pimpinan, penyair dan khathib al-Qa’diyah.’ Al-Qa’diyah adalah kelompok sempalan dari Khawârij yang berpandangan tidak perlu memberontak atas penguasa akan tetapi mereka hanya merangsang untuk memberontak. Imran adalah juru dakwah kepada mazhabnya”. (Fathul Baari 1/432).

Imam Bukhori menerima haditsnya karena walaupun berpemahaman Khawarij, Imron dikenal tsiqah dan tidak suka berdusta.

Al-Hafizh Al-Mizzi berkata,

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: لَيْسَ فِي أَهْلِ الأَهْوَاءِ أَصَحُّ حَدِيْثاً مِنَ الخَوَارِجِ. ثُمَّ ذَكَرَ عِمْرَانَ بنَ حِطَّانَ

Imam Abu Dawud berkata, Tidak ada dari ahli bid’ah yang shahih haditsnya kecuali dari kelompok Khawarij, kemudian beliau menyebutkan Imron bin Hiththan… ”. (Tahdzib Al-Kamal 22/323).

Lihat biografi Imron oleh Bukhori dalam Tarikh (6/413), Ibnu Abi Hatim dalam Jarh wa Ta’dil jilid (6/296), Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqah (5/222), Adz-Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An-Nubala (5/121 –cet. Darul Hadits), Ibnu Hajar dalam Tahdzib At-Tahdzib (8/127) dan lainnya.

Ketiga, dalam hubungannya dengan ilmu hadits, orang yang suka bertaqiyah atau bersumpah palsu demi membela mazhabnya tidak dapat diterima riwayatnya, walaupun ia menyebutkan sanad disertai sumpah. Madigoliyah dikenal memiliki sikap taqiyah dan membolehkan sumpah palsu untuk membela mazhabnya, yang disebut Fathonah, bithonah, budi luhur, bahkan menjadikannya ibadah dan menisbatkannya kepada sunnah. Dengan demikian, andaikata benar mereka memiliki sanad periwayatan maka periwayatannya itu tidak diterima disisi ahli hadits ditinjau dari ilmu hadits.

Al-Hafizh Adz-Dzahabi (w. 748 H) dalam Mizan Al-I’tidal (1/118 –Cet Darul Kutub Ilmiyah) memberi alasan,

بل الكذب شعارهم، والتقية والنفاق دثارهم، فكيف يقبل نقل من هذا حاله !

”... sebab bahkan kedustaan adalah ciri khas mereka dan taqiyah dan nifak pakaian mereka. Bagaimana bisa diterima riwayat dari mereka?”.

Maksud beliau, walaupun mereka memiliki sanad dan menuturkan sanad, tapi riwayat mereka tetap tidak diterima, sebab menjadi kabur dan tersamar antara kebenaran dan kedustaannya. Tidak jelas, apakah riwayatnya ini taqiyah atau sebuah kebenaran.

Al-Khathib Al-Baghdadi (w. 463 H) berkata,

طَائِفَة من أهل الْعلم إِلَى قبُول أَخْبَار أهل الْأَهْوَاء الَّذين لَا يعرف مِنْهُم استحلال الْكَذِب وَالشَّهَادَة لمن وافقهم

”... Sebagian ulama menerima riwayat dari ahli bid’ah yang tidak dikenal menghalalkan dusta dan membuat kesaksian palsu untuk para pengikutnya”. (Al-Kifayah hal. 367 –cet Darul Huda).

Ibn Shalah (w. 643 H) berkata,

وَمِنْهُمْ مَنْ قَبِلَ رِوَايَةَ الْمُبْتَدِعِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِمَّنْ يَسْتَحِلُّ الْكَذِبَ فِي نُصْرَةِ مَذْهَبِهِ أَوْ لِأَهْلِ مَذْهَبِهِ

”Diantara para ulama ada yang menerima riwayat ahli bid’ah asal tidak menghalalkan dusta untuk membela mazhab atau bagi pengikutnya”. (Muqadimah Ibn Shalah hal. 298 –cet Darul Ma’arif).

Imam Nawawi (w. 676 H) berkata,

وَمَنْ لَمْ يُكَفَّرْ قِيلَ: لَا يُحْتَجُّ مُطْلَقًا، وَقِيلَ: يُحْتَجُّ بِهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ مِمَّنْ يَسْتَحِلُّ الْكَذِبَ فِي نُصْرَةِ مَذْهَبِهِ، أَوْ لِأَهْلِ مَذْهَبِهِ ،

”Dan siapa saja (Ahli bid’ah) yang tidak kafir, sebagian (ulama) menolak riwayatnya secara mutlak dan sebagian yang lain menerima asal tidak menghalalkan dusta untuk membela madzhab dan pengikut madzhabnya”. (At-Taqrib wa At-Taisir hal. 50-51 – Darul Kutub Al-’Arobi).

Keempat, kenyataannya sang pencetus ilmu manqul itu sendiri tidak jelas sanad/ijazahnya sebab katanya hilang dibecak. Kita sekarang ini susah untuk menelusuri kebenaran atau keabsahan sanadnya itu. Sedangkan ijazah itu sendiri baru sah setelah ada cap atau tandatangan dari Pemberi ijazah seperti telah ma’ruf.

Contoh ijazah dari Syaikh Umar Hamdan yang dilengkapi cap dan tandatangan:

Anehnya… walaupun sanad Nur Hasan sendiri tidak jelas, tapi tetap saja berani berhujjah mengkafirkan manusia dan menganggap amalan mereka tidak sah hanya gara-gara orang-orang awam itu dianggap tidak memiliki sanad/ijazah dari masyaikh?!! ...

masyaAllah benar-benar mengherankan …

Kelima, mereka sendiri tidak konsisten dalam menerapkan sanad/ijazah ini. Kadangkala mereka mengutip dari siapa saja –tentu saja tanpa ‘manqul’ dari si sumber tersebut- asalkan dianggap menguntungkan dan mendukung maka segera akan mereka kutip. Kalau mereka konsisten, seharusnya segala sesuatu ada manqulnya ada riwayatnya ada sanadnya. Tapi kenyataannya, mereka sendiri tidak melakukannya. Memang sikap ghuluw akan melelahkan pelakunya.

Contoh nya sangat banyak sekali, misalkan mereka memanqulkan lembaran yang diberi judul Luzumul Jama’ah atau disebut juga Mukhtasor Al-Jama'ah Wa Al-Imamah, disana mereka mengutip dari Syaikh Majhul bernama Syaikh Dr. Shodiq Amin, padahal sosok ini adalah sosok imajiner, sebab ini adalah nama samaran dari sebuah tim penulis Ikhwanul Muslimin yang disembunyikan. Lalu sejak kapan, madigoliyah merasa telah manqul dari orang imajiner ini?!!! ...

Kalau mereka benar-benar telah manqul, lalu mana sanad/ijazah antum kepada Syaikh Shodiq Amin tersebut?!!

Begitu juga mereka mengutip dari Mu’amalatul Hukam, apakah benar mereka telah manqul kitab ini dari Syaikh Ibnu Barjas rahimahullahu?. Begitu juga mereka mengutip dari beberapa syaikh yang lain, apakah benar-benar mereka telah manqul dari yang bersangkutan?

Contoh ketidak konsistenan ini sangat banyak… silahkan antum renungi dan cek sendiri.

............

Ustadz Indonesia :

· Ustadz Aris Munandar

· Ustadz Kholid Syamhudi

· Ustadz Musyaffa Ad-Dariniy

· Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi

· Ustadz Abdullah Roy

· Ustadz Ahmad Sabiq

· Ustadz Abu Zubeir

· Ustadz.Abu Haidar

· Ustadz Ari Wahyudi

· Ustadz Abu Jauzaa

· Ustadz Abu Ubaidillah Al Bamalanjiy

· Ustadz Muawiyah Hammad

· Ustadz Dzulqornain

· Ustadz Muslim Al-Atsari

· Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

· Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari

· Ustadz Zainal Abidin

· Ustadz Rasul Dahri

· Ustadz Firanda

· Ustadz Dr. Ali Musri

· Ustadz Badrusalam

· Ustadz Abdul Mu’thi Al-Maidani

Lainnya Indonesia :

· http://almanhaj.or.id

· http://muslim.or.id

· http://www.kajian.net/kajian-audio/Ceramah

· http://www.ahsan.tv/video-kajian/videos

· http://pengusahamuslim.com/

· http://ekonomisyariat.com/

· http://www.raudhatulmuhibbin.org/

· http://badaronline.com/

· www.dakwahtv.com

· http://sss-tv.com/

· http://ahsan.tv/

· http://www.rodjatv.com/

· http://www.radiorodja.com

· http://www.hang106.or.id/

· http://www.radioassunnah.com/

· http://www.radiomuslim.com/

· http://www.radioarroyyan.com/

· http://alimanradio.or.id/

· http://syiarsunnah.com/

· http://hidayahfm.com/

· http://an-nashihah.com/

· http://almakassari.com/

· http://islam-download.net/

· http://alhujjah.com/

· http://artikelassunnah.blogspot.com/

· http://alqiyamah.wordpress.com/

· http://read.kitabklasik.co.cc (download kitab-kitab)

· http://majles.alukah.net/showthread.php?t=26986 (Download kitab-kitab via megauploud)

· http://syaikhulislam.wordpress.com (situs pembelaan atas Syaikhul Islam Ibn Taimiyah)

· http://www.hakekat.com (Bantahan bagi syi’ah)

· http://www.asharis.com/creed (Bantahan bagi asy’ariah)

· http://ahbash-sesat.blogspot.com dan http://ahbash-jahil.blogspot.com/ (bantahan bagi firqah ahbash/al-habasyi)

· http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/ (Ulama Syafi’iyah serukan Manhaj Salaf)

· http://bantahansalafytobat.wordpress.com/

Para Ulama

· Abdul Azhim Badawi (http://www.ibnbadawy.com/)

· Abdul Aziz Alu Syaikh (http://www.sahab.ws/5600/news/3399.html)

· Abdul Aziz ar-Rajihi (http://www.sh-rajhi.com/rajhi/)

· Abdul Aziz ar-Rayyis (http://islamancient.com/)

· Abdul Aziz bin Bazz (http://www.ibnbaz.org.sa/)

· Abdul Karim Al Khudhair (http://www.khudheir.com/)

· Abdul Muhsin Abbad (http://www.alabad.jeeran.com/)

· Abdullah al-Fauzan (http://www.alfuzan.islamlight.net/)

· Abdullah azh-Zhafiri (http://www.sahab.ws/6111)

· Abdullah Jibrin (http://www.ibn-jebreen.com/)

· Abdur Razaq Afifi (http://www.afifyy.com/)

· Abdur Razaq Al Abbad Al Badr (http://www.al-badr.net/)

· Abdus Salam Barjas (http://www.burjes.com/)

· Abu Abdil Muiz Firkuz (http://www.ferkous.com/rep/index.php)

· Abul Hasan al-Ma’ribi (http://sulaymani.net/)

· Abu Ishaq Al Huwaini (http://www.al-heweny.com)

· Abu Islam Shalih Thaha (http://www.abuislam.net/)

· Abu Malik al-Juhanni (http://abumalik.net/)

· Abu Umar al-Utaibi (http://www.otiby.net/)

· Ahmad Yahya Najmi (http://njza.net/web/)

· Ali Hasan al-Halabi (http://www.alhalaby.com/)

· Ali Ridha (http://www.albaidha.net/vb/)

· Ali Yahya al-Haddadi (http://www.haddady.com/)

· Alwi as-Saqqof (http://www.dorar.net/)

· Falah Ismail (http://mandakar.com/)

· Hisyam al-Arifi (http://www.aqsasalafi.com/)

· Imam al-Ajurri (http://www.ajurry.com/)

· Kholid al-Mushlih (http://www.almosleh.com/index.shtml)

· Lajnah Daimah Saudi Arabia (http://www.alifta.com/default.aspx)

· M. Abdillah al-Imam (http://www.sh-emam.com/)

· M. al-Hamud an-Najdi (http://www.al-athary.net/)

· M. Ibrahim al-Hamd (http://toislam.net/)

· M. Khalifah Tamimi (http://www.mediu.org/)

· Majdi Arafat (http://www.magdiarafat.com/)

· Masyhur Hasan Salman (http://www.mashhoor.net/)

· Muhammad Al-Maghrawi (http://maghrawi.net/)

· Muhammad al-Utsaimin (http://www.ibnothaimeen.com/)

· Muhammad Ali Adam (http://www.alsonah.org/)

· Muhammad Hassan (http://www.mohamedhassan.org)

· Muhammad Husain Ya’qub (http://www.yaqob.com)

· Muhammad Musa Nashr (http://www.m-alnaser.com/)

· Muhammad Said Ruslan (http://www.rslan.com/)

· Muqbil bin Hadi (http://www.muqbel.net/)

· Musthofa al-Adawi (http://aladawy.info/)

· Nashir al-Barrak (http://albarrak.islamlight.net/)

· Nashirudin al-Albani (http://www.alalbany.net/)

· Robi’ al-Madkholi (http://www.rabee.net/)

· Sa’ad al-Hushayin (http://www.saad-alhusayen.com/)

· Said Abdul Azhim (http://www.al-fath.net/)

· Salim al-Ajmi (http://sahab.ws/3250)

· Shalih al-Fauzan (http://www.alfawzan.ws/alfawzan/default.aspx)

· Shalih Alu Syaikh (http://www.salehalshaikh.com)

· Shalih Sa’ad as-Suhaimi (http://sahab.ws/4435)

· Sulthan al-Ied (http://www.sultanal3eed.com/)

· Taqiyudin al-Hilali (http://www.alhilali.net/)

· Ulama Yaman (http://www.olamayemen.com/html/)

· Utsman al-Khamis (http://www.almanhaj.net/)

· Wahid Abd Salam Bali (http://www.waheedbaly.com/)

· Yahya al-Hajuri (http://www.sh-yahia.net/)

Lainnya Arab:

· Maktabah Misykatul Islamiyyah (http://www.almeshkat.net/books/)

· Maktabah Ruuhul Islam (http://islamspirit.com/)

· Maktabah Shayidul Fawaid (http://saaid.net/book/index.php)

· Haramain Recording (http://www.haramainrecordings.com)

· Maktabah Waqfeya (http://www.waqfeya.com)

· Multaqo Kulla as-Salafiyin (http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/)

Arsip :